MENCIPTAKAN EKOSISTEM MUHAMMADIYAH (Bagian Kedua)

(Bagian Kedua)

Opini136 Dilihat

Gus Zuhron

Ada empat pilar kekuatan Muhammadiyah.

Pertama, sumberdaya manusia yang mencukupi. Jenis manusia apapun yang menopang kemajuan dan keunggulan sesungguhnya tersedia dalam Muhammadiyah. Level guru hingga guru besar, politisi, ekonom, pakar dalam bidang kelautan, lingkungan, ulama fiqih, hukum, pendidikan, kesehatan dan seterusnya.

Kedua, kekayaan Amal Usaha Muhammadiyah yang dimiliki. Aset dalam bidang tanah yang dimiliki sejumlah 21 juta meter persegi, atau sama dengan 30 kali luas negara Singapura. Belum lagi kekayaan lain yang jika diperkirakan bernilai lebih dari Rp 400 Triliun. Wajar jika Muhammadiyah dinobatkan sebagai Ormas Islam terkaya di dunia.

Ketiga, jaringan struktural yang terkoneksi dari tingkat Pusat hingga Ranting dan tersebar di 28 negara seluruh dunia. Ada yang menilai bahwa kerapian jaringan organisasi dalam Muhammadiyah menduduki peringkat kedua setelah militer.

Keempat, ideologi dan paham agama. Jamak difahami bahwa Muhammadiyah adalah organisasi yang mempunyai narasi ideologi yang kuat dan paham keagamaan yang melintasi mazhab. Corak keberagamaan yang rasional, moderat dan progresif sangat melekat pada organisasi berlambang matahari ini.

Baca Juga:  MOBILISASI PEMILIH VERSUS MONEY POLITICS

Dengan empat modal diatas semestinya tidak sulit menyulap seseorang dari bukan Muhammadiyah menjadi Muhammadiyah. Hal ini tidak mustahil diwujudkan jika ada langkah-langkah kongkrit, terstruktur, dengan target yang jelas dan dilakukan secara berkesinambungan.

Langkah itu diawali dengan menyelaraskan dan menyambungkan jalan pikiran seluruh pelaku gerakan dan sumberdaya manusia yang dimiliki. Ada semacam kalimatus syawa’ yang menjadi titik temu pemikiran, bukan untuk menyeragamkan namun menempatkan pada frekuensi yang saling berkaitan.

Langkah lain adalah “membersihkan seluruh amal usaha dari parasit dan virus yang merugikan Muhammadiyah“. Upaya bersih-bersih itu dimulai dari mendesain sistem rekruitmen yang mampu memberikan jaminan rasa bermuhammadiyah, memberikan vaksin ideologi kepada orang-orang yang bekerja di dalamnya dan membuang ke museum sejarah jenis manusia yang sudah tidak mungkin diperbaiki.

Baca Juga:  MEMANG REPOT JADI PENGAREP

Sejak awal berdirinya Muhammadiyah dikenal sebagai organ gerakan yang selangkah lebih maju dari siapapun, bahkan termasuk negara. Banyak pikiran-pikiran Muhammadiyah yang di kemudian hari diadopsi oleh kelompok lain, termasuk diadopsi negara. Sudah semestinya dengan pengalaman panjang semacam itu Muhammadiyah mampu menciptakan ekosistemnya sendiri. Sebuah ekosistem yang mampu membentuk karakter yang sangat kuat dan melekat.

Satu contoh dalam konteks pendidikan, kegenitan untuk terus mengikuti narasi negara menjadikan Sekolah/Perguruan Tinggi Muhammadiyah masuk dalam jebakan batman. Sehingga menempatkan sekolah-sekolah itu dalam posisi tanggung. Menjadi nomor satu di negeri ini jelas tidak dan dalam waktu bersamaan terabaikan sebagai produsen kader.

Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) pada tahun 2022 merilis 25 Sekolah terbaik di Indonesia. Dari 25 sekolah itu tidak satu pun Sekolah Muhammadiyah yang masuk di dalamnya. Kondisi itu diperparah dengan keluhan di berbagai tempat bahwa lembaga pendidikan yang ada belum bisa diharapkan sepenuhnya untuk melahirkan para pejuang Muhammadiyah.

Baca Juga:  Memahami Peta Politik, Sebuah Keharusan Penyelenggara Pemilu 2024

Jalan keluar dari semua itu adalah menciptakan Sistem Alternatif yang jauh lebih meyakinkan. Ponpes Gontor tidak lebih besar dari Muhammadiyah, namun sistem pendidikannya tidak perlu bersandar kepada negara. Semestinya Muhammadiyah mampu melakukan lebih dari Gontor.

Sistem alternatif tidak dimaksudkan untuk berhadap-hadapan dengan negara, tetapi memberikan warna lain yang lebih menarik dan menjanjikan. Warna lain itu adalah Islam dalam cara pandang Muhammadiyah.

Langkah terakhir adalah mengarusutamakan ideologi dan paham agama di semua level dan tingkatan. Perlu pembahasaan yang lebih sederhana terhadap teks-teks ideologi maupun putusan-putusan paham keagamaan. Penyederhanaan itu dimaksudkan agar lebih bisa diterima oleh masyarakat akar rumput. Lebih jauh forum seperti kajian, pengajian, diskusi, seminar, obrolan ringan dikondisikan dan dibiasakan untuk menyinggung semua hal ihwal tentang Islam sesuai faham Muhammadiyah.

5 Desember 2023
*) Sekretaris MPKSDI PWM Jateng, Dosen Unimma Magelang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *