MENCIPTAKAN EKOSISTEM MUHAMMADIYAH

Opini213 Dilihat

(Bagian Pertama)

Gus Zuhron

Seekor anak Singa dilepaskan oleh induknya untuk berpetualang mengarungi hutan rimba sendirian. Sang induk tentu mempunyai tujuan agar anaknya tumbuh menjadi dewasa, mandiri dan kaya akan wawasan. Setelah memberikan bekal yang cukup, perjalanan anak raja hutan itupun dimulai.

Dengan sangat percaya diri anak Singa mulai mengayunkan langkah memasuki belantara hutan yang rimbun dan luas. Di hutan Singa muda ini bertemu banyak hewan lain, mereka semua bersikap ramah dan bersahabat. Namun ada yang mengganjal dalam hati putra mahkota ini. Setiap hewan yang bertemu dengannya selalu menyapanya dengan kata “hai kucing…apa kabarmu”.

Sapaan awal membuatnya marah dan mengklarifikasi bahwa dirinya bukan kucing, melainkan Singa muda dan Putra Mahkota dari Raja Hutan. Seiring berjalannya waktu semua yang ia temui di hutan selalu menyapanya dengan sapaan yang sama. Sampai muncul keraguan, sebenarnya dirinya itu Kucing apa anak Singa.

Baca Juga:  Peran Anak Muda dalam Pemilu: Pilar Demokrasi yang Kuat

Satu bulan berlalu dan petualanganpun usai. Anak Singa yang gagah memutuskan untuk kembali ke rumah. Pengalaman selama perjalanan di hutan diceritakan dengan tuntas sebagai oleh-oleh terbaik untuk orang tuanya. Langkahnya mantap dan penuh percaya diri. Sampai di rumah anak Singa ini disambut bahagia oleh induknya dengan mengatakan “gimana kabar anak Singaku yang gagah dan berani”. Mendengar ucapan itu sontak sang anak singa marah dan mengatakan “aku ini bukan Singa, aku adalah Kucing”. Tanpa sadar rupanya ekosistem hutan telah mengubah jati dirinya.

Mari kita tarik cerita ilustrasi diatas dalam konteks Muhammadiyah. Ada pertanyaan besar yang sudah sering diajukan : “Mengapa jumlah kader Muhammadiyah tidak sebanding dengan jumlah lulusan yang dihasilkan atau tidak berbanding lurus dengan jumlah orang yang bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah?“. Bukankah mereka ada yang 6 tahun sekolah di Muhammadiyah. Ada yang 2, 3, 4, 5 tahun kuliah di PTM. Bahkan ada yang sudah bekerja lebih dari 20 tahun dan tetap tidak menjadi Muhammadiyah. Semestinya waktu yang lebih dari cukup untuk menjadikan mereka mempunyai “cita rasa” Muhammadiyah.

Baca Juga:  Pemilu Berintegritas, Sebuah Harapan atau Sekedar Slogan?

Setidaknya ada 4 faktor mengapa hal itu bisa terjadi.

Pertama, atmosfer bermuhammadiyah tidak cukup mendominasi di lingkungan amal usaha dengan beragam bentuknya. Perbincangan sederhana, diskusi, obrolan, workshop yang fokus bagaimana membesarkan persyarikatan dan menjadikan peserta didik sebagai kader Muhammadiyah nyaris tidak pernah menjadi menu utama.

Kedua, kurikulum Sekolah dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah hanya menempatkan aspek kemuhammadiyahan sebagai aksesoris, belum menjadi ruh yang menginternalisasi di dalamnya. Terlalu berkiblat pada narasi negara menjadikan lembaga pendidikan Muhammadiyah kehilangan jati dirinya sebagai lumbung para pejuang.

Baca Juga:  Memahami Peta Politik, Sebuah Keharusan Penyelenggara Pemilu 2024

Ketiga, patut diduga kenapa jumlah lulusan lembaga pendidikan Muhammadiyah tidak banyak yang melanjutkan perjuangan Kyai Ahmad Dahlan. Karena sebagian besar dosen, guru dan karyawan juga bukan menjadi bagian dalam Muhammadiyah. Keterlibatan mereka dalam amal usaha sebatas tenaga profesional pencari cuan tanpa harus merasa bertanggung jawab untuk membesarkan Muhammadiyah.

Keempat, belum adanya sistem kaderisasi yang terstruktur, sistematis dan masif. Baitul Arqom (BA) meskipun disebut sebagai Perkaderan Utama faktanya belum mampu menggaransi seseorang dari bukan Muhammadiyah bisa bertransformasi menjadi insan Muhammadiyah. Baitul Arqom baru sebatas menjadi bagian parsial dari mimpi Muhammadiyah akan kaderisasi.

3 Desember 2023
*) Sekretaris MPKSDI PWM Jateng, Dosen Unimma Magelang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar