KURBAN

Khazanah, Opini137 Dilihat

Encep Saepudin

World Population Review melaporkan terdapat 4.000-4.300 agama dan aliran kepercayaan di dunia. Setiap agama dan aliran kepercayaan itu umumnya memiliki tradisi kurban yang seringkali disesuaikan dengan budaya setempat.

Kurban berbeda dengan sembahyang. Meskipun keduanya sama-sama sebagai ritual untuk mendekatkan diri pada Sang Kuasa.

Kurban berbentuk persembahan barang berupa hasil pertanian atau peternakan. Sembahyang merupakan ritual langsung hamba pada Sang Kuasa dengan segala model gerakannya sesuai aturan yang berlaku di masing-masing agama dan aliran kepercayaan.

Kurban merupakan ritus paling tua dibandingkan sembahyang. Kurban diperkenalkan pertama kali oleh Habil dan Qabil untuk menentukan pasangan hidup masing-masing.

Habil dan Qabil masing-masing kembar fraternal (kembar lelaki perempuan). Habil kembaran Labuda dan Qabil kembarannya Iqlima. Allah Swt memerintahkan Nabi Adam a.s. agar menikahkan Habil dengan Iqlima dan Qabil dengan Labuda berdasarkan kurban yang Allah Swt terima.

Habil mempersembahkan seekor kambing terbaik. Qabil mempersembahkan kurban berupa hasil bumi yang sangat buruk. Api menyambar kurban Habil pertanda kurbannya diterima, sedangkan kurban Qabil dibiarkan saja.

Baca Juga:  ADAKAH SIKSA KUBUR

Peristiwa kurban pertama ini dikisahkan dalam QS. Al-Ma’idah [5]: 27, artinya : “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): ‘Aku pasti membunuhmu!’. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.”

Praktik kurban ini ternyata terus dilanjutkan anak cucu Nabi Adam a.s. hingga sekarang. Hanya saja terjadi pergeseran makna dan barang yang dikurbankan dari sebelumnya hasil pertanian dan peternakan menjadi manusia. Manusia dijadikan kurban sebagai upaya penguasa mengintimidasi rakyatnya agar tetap tunduk.

Saat Kerajaan Babilonia diperintah Raja Namrud, Nabi Ibrahim a.s. bermimpi selama tiga hari berturut-turut, tanggal 8-10 Dzulhijjah, agar mengurbankan puteranya, Ismail a.s. Perintah ini sempat membuat Abul Ambiya bimbang karena harus menyembelih puteranya sendiri.

Pertanyaan mendasarnya adalah kenapa Allah Swt memerintahkan penyembelihan putera Nabi Ibrahim a.s.? Padahal Ibrahim a.s., saat itu, memiliki 12 ribu ekor hewan peliharaan.

Baca Juga:  FIQIH-FIQIH ANEH

Namun Nabi Ibrahim melaksanakan mimpinya setelah Ismail a.s. menerima perintah tersebut, yang tertuang dalam QS Ash-Shafaat (37) : 104-107, yang artinya: “Wahai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan, Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

Secara harfiah, kurban memiliki arti hewan sembelihan, yang urutannya adalah unta, sapi, dan kambing/domba. Daging kurban boleh dimakan fakir miskin, tetangga, kerabat, dan teman dekat.

Ditjen PKH Kementan menyiapkan 2,06 juta ekor hewan peliharaan untuk kurban tahun ini. Terdiri dari sapi, kambing dan domba.

Daging sapi dan kambing adalah asupan penting bagi olahragawan. Sebab di dalamnya terdapat protein yang dibutuhkan otot dan otak.

Kambing seberat 20 kg bisa dijadikan 250 tusuk sate dan 60 porsi gulai/sop. Sapi seberat 110 kg bisa dijadikan 7.150 butir bakso. Atau, bisa juga diolah menjadi 1.100 pieces steak ukuran ekonomi alias kiddy menu.

Baca Juga:  JENIS KIKIR

BPS melaporkan konsumsi daging sapi penduduk Indonesia rerata hanya 9 gram per kapita per minggu. Konsumsi ini masih jauh dibawah standar World Cancer Research Fund 350 – 500 gram per kapita per minggu.

Memprihatinkan Sekali! Kamu sepakat?

Pantas saja mencari olahragawan yang standar dunia sulit sekali di negeri ini. Bahkan pada cabor tertentu sampai harus naturalisasi.

Soalnya penduduknya jarang sekali makan daging, yang merupakan syarat mutlak untuk menjadi olahragawan. Apakah karena harga daging mahal atau karena sebab lain, misalnya mitos.

Hari Raya Idul Adha ternyata bisa menjadi momentum untuk meningkatkan konsumsi daging. Sebab di setiap gang rumah terdapat sejumlah kelompok orang sedang bakar daging sampai asapnya menguar bikin hasrat ingin mengecapnya.

Bukan begitu? Begitu, bukan!

17 Juni 2024
*) Dr. Encep Saepudin, S.E., M.Si. Pemulung Kata, Dosen Prodi Hukum Ekonomi Syariah, FAI UMP.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *