MEMBERSAMAI KAMBING-KAMBING DAM

Khazanah, Opini294 Dilihat

Thontowi Jauhari

Saat tulisan ini saya goreskan, saya masih di lokasi pemotongan hewan Ekasiah, Makkah. Saat suhu udara sangat panas, mencapai 45 derajat Celcius. Ketika ada angin, rasanya pipi ini seperti kebakaran.

Saat Ketua Kloter (Kelompok Terbang) 92 SOC, Miftachul Huda, menyampaikan pengumuman kepada seluruh jamaah untuk tidak keluar, saya (Karom : Ketua Rombongan), istri, pak Munawar (Muzawir) dan ditemani pak Zumar, pak Marwoto dan Pak Taryono keluar tenda. Tiga nama terakhir tersebut juga Karom.

Maaf ya pak ketua Kloter, para petugas haji, khususnya petugas kesehatan. Jika kami izin, mungkin malah tidak diizinkan.

Iya, kami keluar tenda menuju tempat pemotongan hewan kambing untuk menjadi saksi. Agar saat kambing dam itu disembelih, kami menyaksikan.

Baca Juga:  IF YOU DON’T INNOVATE, YOU DIE

Menyaksikan itu, dengan menyebut nama-nama yg membayar dam satu per satu. Dibacakan doa “bismillah Allah Akbar”. Satu-satu, detail dan tidak ada yang kelewat.

Tadinya mau saya wakilkan ke mas Dhio, yang masih muda. Tapi setelah pikir-pikir, saya harus bisa menyaksikan sendiri. Saya harus bertanggung jawab ketika ditugasi oleh Muzawir menjadi saksi. Disamping tentunya agar memperoleh pengalaman.

Karena sudah niat, sehabis subuh, Rombongan 8 Kloter 92 bersama-sama melempar jumrotul ula. Selesai melempar, saya dan istri memisahkan diri dengan rombongan dan mencari rumah pak Safri. Dengan modal google map, saya dan istri berjalan berdua di tengah terik matahari sekitar 2 km. Alhamdulillah ketemu, janjian di Supermarket Bin Dawood.

Baca Juga:  PAJAK ITU HARAM

Benar kata Ustadz Bari, seluruh tamu Allah itu akan dijaga, dilindungi dan tidak akan hilang. Semua aman, “wa man dakholahu kaana aanina”.
(Qs. Ali Imron : 97)

Yang membuat berat, di rumah pemotongan hewan itu tidak ada peneduh. Jadinya, kami duduk membaur bersama dengan kambing-kambing itu.

Saya tanyakan ke pak Syafri, rekan KBIH Al- Kautsar di Makkah, apakah ada kantin atau semacam tempat nongkrong di rumah pemotongan hewan tersebut, dijawab : tidak ada.

Hadeh, kalau di Jawa, banyak kerumunan orang, pasti ada warung. Penginnya, bisa nongkrong sambil minum jus atau kopi plus sego kucing.

Terpaksa kami nongkrong bersama wedus-wedus itu, sambil “menikmati” udara panas di emperan.

Saya melihat KBIH Al- Kautsar itu, amat amanah terkait titipan membayar dam tersebut. Kami sebenarnya percaya saja. Tapi oleh pak Munawar, selaku perwakilan KBIH, para Karom diminta untuk menyaksikan.

Baca Juga:  NEGERI PARA PENGHUJAT

Setengah “terpaksa” kami ikuti kata pak Munawar. Meskipun pada akhirnya kami menikmati. Diniati ibadah dengan sabar, ikhlas dan ridha.

Terima kasih untuk semuanya. Ternyata hidup itu tinggal bagaimana kita menyikapi. Situasi bagaimana, jika kita menyikapi dengan positif, insya Allah ada values yang bisa kita ambil.

Ya Allah, jadikan haji kami haji yang mabrur, dosa-dosa kami diampuni, doa-doa kami dikabulkan dan kami digolongkan menjadi orang yg bertakwa. Amin

Rumah Pemotongan Hewan Ekasiah Makkah, 17 Juni 2024, jam : 13.41 WAS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *