Zaman yang Absurd

Opini79 Dilihat

Wahyudi Nasution

“Pemerintah kok jadi wagu ya, Pak Bei,” kata Bu Bei sambil tangannya meletakkan segelas kopi di meja untuk Pak Bei.

Siapa yang barusan telepon?” tanya Pak Bei yang lagi asyik baca koran yang diantar Kang Narjo tadi pagi namun baru sempat dibacanya sore hari.

“Ooh…itu tadi dari Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja. Lucu pol…..”

Lucu pol bagaimana?

“Tahun lalu saya kan diminta jadi Ketua Kluster Konveksi, Pak Bei.”

Iya tahu. Terus…“.

“Lha ini tadi saya ditelepon, diminta supaya mengajak teman-teman konveksi mau menampung dan mempekerjakan korban PHK dari Sritex. Ada banyak sekali tenaga terampil yang perlu dibantu, katanya.”

Pak Bei jadi ingat berita beberapa minggu terakhir tentang puluhan perusahaan, termasuk perusahaan tekstil dan garment Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Banten yang terpaksa menutup usahanya karena bangkrut. Ada juga yang dinyatakan pailit oleh PTUN seperti PT Sritex di Sukoharjo yang konon pabrik tekstil terbesar se-Asia Tenggara itu. Puluhan ribu buruh dirumahkan alias kena PHK.

Kemarin, Mas Cahya anak sulung Pak Bei-Bu Bei yang dikader meneruskan usaha Bundaco juga cerita bahwa toko-toko kain langganan kulakan bahan di Solo, Jogja, Tengerang, Tanah Abang, dan Bandung juga mengeluh karena krisis stok barang. Gudang-gudang mereka kosong. Beberapa toko grosir bahan itu pun terpaksa menutup usahanya. Boleh jadi itu imbas dari tutupnya pabrik-pabrik tekstil.

Baca Juga:  Pentingnya Pendidikan Politik Bagi Pemilih Pemula Pada Pemilu 2024

Terus maunya orang Dinas bagaimana, Nda?

“UMKM konveksi seperti kita ini diminta menyelamatkan nasib buruh korban PHK itu. Lucu to, Pak Bei.”

“Bukan lucu lagi, tapi lugu.”

“Kok lugu?”

Ya lugu : lucu tur guoblok.”

“Hahaha….iya betul itu. Lucu tur guoblok. Setuju.”

Pak Bei-Bu Bei sore itu bisa tertawa lepas. Sudah beberapa bulan terakhir keduanya jarang bisa tertawa lepas. Kalau pun sesekali kelihatan tertawa, tawanya tidak bisa lepas, bahkan terkesan agak kecut. Maklum saja, kondisi hampir semua pelaku UMKM konveksi sedang tidak baik-baik saja, tak kunjung membaik meski Pandemi Covid-19 telah berlalu.

Bahkan, musim paceklik dari hari ke hari semakin terasa. Permintaan pasar tak kunjung membaik. Untung, Mas Cahya dan Mbak Vika istrinya sebagai penerus usaha Bundaco mau berjibaku memasuki dunia digital marketing yang bagi generasi Pak Bei-Bu Bei masih terasa ghaib.

“Tadi kujawab spontan begini. Pak, Njenengan ini kok lucu, to. Selama ini Pemerintah kan lebih menganak-emaskan pabrik-pabrik besar. Lha kok sekarang kami yang disuruh menolong mereka?”

Baca Juga:  OMON-OMON FOOD ESTATE

Ya betul itu. Terus...”

“Masuknya pabrik-pabrik tekstil dan garmen ke Jawa Tengah selama ini sudah ‘disubyo- subyo’ (dijadikan pahlawan/sangat terhormat) dan difasilitasi dengan berbagai kemudahan. Disisi lain, usaha-usaha konveksi rumahan seperti kami dan sentra-sentra konveksi yang sudah jelas bisa menggerakkan ekonomi Daerah justru tidak pernah ‘diaruhke’ (disapa, ditemani) keadaannya, ditanyai kesulitannya, juga tidak dibantu berbagai kemudahan dan fasilitas. Kami dibiarkan berjuang sendiri, seakan keberadaan kami tidak penting bagi Pemerintah.”

Terus bagaimana respon orang Dinas tadi?

“Cuma tertawa dia. Minta maaf pun tidak. Aneh.”

Iya, kok aneh. Selama ini pelaku UMKM harus ‘legowo’ (rela hati) bertempur sendirian di pasar bebas melawan pemodal besar, tanpa perlindungan dari Pemerintah.”

“Betul. Masuknya barang-barang impor dari China yang harganya sangat murah nyata-nyata telah membunuh UMKM kita. Produk UMKM tidak mampu melawan produk China.”

“Nah itu. Barang- barang impor itu masuk ke sini tanpa pajak, bahkan patut diduga barang ilegal. Kalau melihat intensitas dan kuantitasnya, boleh jadi Pemerintah China memang melakukan dumping agar bisa menguasai pasar kita.”

“Tapi kenapa yang disalahkan justru Tik-Tok, Pak Bei? Lalu ditutup. Anak-anak millenial menjadi tidak bisa berjualan lewat Tik-Tok. Katanya demi melindungi UMKM.”

Baca Juga:  Rakus dan Pelit

Terlalu cepat mendiagnosa. Jadinya kurang lengkap ngasih obatnya.

“Maksud Pak Bei?”

Lah kan sudah jelas, banyaknya barang-barang ‘ilegal’ menyebabkan banyak industri dalam negeri tutup karena bangkrut. Dengan politik dumping, barang-barang mereka masuk menyerbu pasar kita dengan harga sangat murah. Imbasnya, UMKM dan para pedagang kita jadi kolaps semua. Tidak mampu bersaing. Barang ilegal dan dumping itulah yang seharusnya diatasi dan dilawan Pemerintah, bukan hanya Tik-Tok shop yang ditutup.

“Ah entahlah, Pak Bei. Jadi pusing kalau mikir soal ini.”

Memang, Nda. Jadi tidak jelas, sebenarnya itu soal bisnis/ekonomi ansih atau soal politik ekonomi. Penutupan Tik-Tok shop harus benar-benar demi melindungi kepentingan rakyat/UMKM atau karena persaingan bisnis dan politik ekonomi tingkat tinggi antar negara-negara maju. Absurd kan jadinya?

Obrolan sore Pak Bei-Bu Bei pun berakhir. Azan maghrib terdengar bersahutan dari corong beberapa masjid di kampung sekitar nDalem Pak Bei. Keduanya bergegas berangkat ke masjid untuk memenuhi panggilan-Nya.

8 Oktober 2023
*) Ketua LPUMKM PDM Klaten, Jamaah Tani Muhammadiyah Jateng.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *