PEMBELA KEADILAN

Opini97 Dilihat

Margo Hutomo

Allah Swt. berfirman, yang artinya :
Maka mengapa tidak ada dari umat-umat sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang dari (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan diantara mereka; dan orang- orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa“.
(QS. Hud ayat 116)

Pada ayat ini Allah Swt menyatakan celaan-Nya kepada orang-orang cerdik pandai yang tidak melarang sesamanya berbuat kerusakan di muka bumi. Padahal akal sehat dan pikiran cerdas yang mereka miliki cukup untuk mengetahui, mengerti dan memahami kebaikan yang telah diserukan oleh para Nabi. Hanya sedikit saja diantara mereka yang mempergunakan akal sehat, pikiran, kecerdasan dan keberaniannya untuk melarang orang lain berbuat yang munkar dan mengajak berbuat yang baik. Mereka yang sedikit itulah yang diselamatkan oleh Allah.

Dahulu, orang-orang cerdik pandai namun zalim lebih mementingkan kesenangan dan kemewahan yang berlebihan, sehingga menyebabkan mereka menjadi sombong, takabur, dan fasik. Ajakan Rasul kepada kebaikan ditentang, bahkan mereka berbuat sebaliknya. Kejahatan merebak, tidak ada seorangpun diantara mereka yang berani menyuarakan dan melarang orang lain agar tidak berbuat kemunkaran. Dan oleh karena dosa yang mereka perbuat itu sudah terlalu berat, maka Allah Swt. membinasakan mereka.

Baca Juga:  POLARISASI POLITIK 2024

Sebagaimana firman Allah Swt, artinya :
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian Kami binasakan sama sekali (negeri itu)“.
(Qs. al-Isra’ ayat 16)

Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan“. (QS. Hud ayat 117)

Ayat ini menjelaskan bahwa Tuhan tidak akan membinasakan suatu negeri, jika penduduknya masih berbuat kebaikan, tidak berbuat zalim.
Beberapa perbuatan zalim sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an, diantaranya mengurangi takaran/ timbangan yang dilakukan kaum Nabi Syuaib; melakukan perbuatan “liwath” (homoseks, sodomi) sebagaimana kaum Nabi Luth; patuh kepada Raja atau pemimpin yang kejam dan bengis, Firaun; serta berbagai kemunkaran dan kejahatan lain. Padahal Allah Swt melalui Nabi dan Rasul utusan-Nya tidak pernah menyuruh umatnya melakukan perbuatan zalim itu.

Baca Juga:  Perlunya Partisipasi Aktif Masyarakat Sebagai Elemen Penting dalam Pemilu 2024

Allah Swt. berfirman, artinya :
Dan Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba (Nya)“. (Qs. Fushilat : 46)
Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun“. (Qs. Yunus : 44)

Umat yang Beragam

Allah Swt berfirman, artinya:
Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat“.
(QS. Hud ayat 118)

Ayat ini menjelaskan jika saja Allah Swt. menghendaki, maka manusia pasti bisa menjadi umat yang satu dalam beragama sesuai fitrah asal kejadiannya. Meski pada asal muasalnya manusia diciptakan Tuhan dari seorang bapak (Adam) dan Ibu (Hawa). Kemudian berkembang biak, menyebar ke seluruh pelosok bumi. Setelah berkembang banyak, timbul kepentingan, keinginan dan kebutuhan yang berbeda-beda. Sehingga timbul perselisihan yang tak habis-habisnya.

Sebagaimana firman Allah Swt :
Dan manusia itu dahulu hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih“. (Qs. Yunus : 19)
Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan : sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya“. (QS. Hud ayat 119)

Baca Juga:  Memahami Peta Politik, Sebuah Keharusan Penyelenggara Pemilu 2024

Perselisihan diantara manusia tidak hanya terjadi karena adanya perbedaan agama, tetapi juga biasa terjadi diantara penganut agama yang sama. Kecuali orang-orang yang telah mendapat rahmat, hidayah dan taufik dari Allah Swt. Mereka mampu bersatu dan selalu mengusahakan persatuan, dengan menaati segala ketentuan Allah Swt, mengerjakan segala perintahNya, menjauhi apa yang dilarangNya, serta tertib menaati konstitusi dan norma hukum yang telah disepakati bersama.

Demikian ketetapan dari Allah yang Maha Berkehendak mengenai keragaman manusia. Ada yang mendapat rahmat, hidayah dan taufik dari Allah, sehingga mereka mampu bersatu dan termasuk ke dalam golongan manusia yang bahagia menjadi penghuni surga. Namun ada pula yang tak pernah selesai berselisih dan termasuk ke dalam golongan manusia yang celaka dan menjadi penghuni neraka.

Malik bin Anas pernah berkata, “Manusia itu diciptakan sebagian berada di surga dan sebagian yang lain berada di neraka sair.”

Sebagaimana Allah mengakhiri ayat diatas dengan satu ketegasan bahwa “telah menjadi ketentuan-Nya untuk memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia yang selalu berbuat jahat dan dosa di muka bumi ini”.

Wallahu A’lam
Batang, 29 November 2023

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *