MUHAMMADIYAH GARIS HIJAU

Opini828 Dilihat

Rudi Pramono - Muhammadiyah Garis Hijau

Oleh: Rudi Pramono, SE(Ketua MPI PDM Wonosobo)

Pemkab Wonosobo dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup se-Dunia 2024 mengadakan “Simposium Konservasi Air dan Tanah dan Pengelolaan Sampah sebagai Upaya Pemulihan Lingkungan Hidup”. Pada hari Senin, 1 Juli 2024 di Hotel Dafam Wonosobo dengan mengundang seluruh Instansi, BUMD, Swasta, Ormas Islam dan masyarakat luas.

Persoalan sampah adalah salah satu persoalan lingkungan yang berdampak besar bagi kelestarian alam. Setiap hari ribuan ton sampah di hasilkan ada yang bisa terurai ada yang tidak seperti sampah plastik. Pemerintah mencanangkan program untuk meminimalisasi penggunaan plastik dengan menggantinya dengan kertas, kain, dan bahan lainnya.

Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam yang memahami ‘Tauhid yang fungsional’, mengarahkan perhatian dari Ketuhanan ke Kemanusiaan, dari ‘langit’ ke ‘bumi’, dari Abdullah ke Khalifatullah, dan dari spiritual ke sosial. Muhammadiyah selalu peduli dengan persoalan kehidupan, termasuk masalah lingkungan seperti sampah.

Baca Juga:  MEMILIH PEMIMPIN

Islam ‘Agama Hijau’

Islam sejatinya adalah ‘agama hijau’ (Green Deen, meminjam istilah Abdul-Matin), dan memberi fondasi amanah untuk menjaga keseimbangan lingkungan (menurut filosof Islam ekologis, Syeh Husain Nashr). Oleh karena itu, umat Islam harus memandu dan memadukan setiap gerak-geriknya dengan kesadaran tinggi akan penyelamatan lingkungan hidup. Tanpa itu, manusia beragama hanyalah makluk yang terlatih merusak dan menumpahkan bencana di planet bumi. Muhammadiyah juga mengemban amanah ‘memanusiakan lingkungan’ sebagai manifestasi teologi yang tangguh.

‘Muhammadiyah Garis Hijau’ senantiasa mengupayakan dengan sungguh-sungguh untuk kerja membangun kesadaran lingkungan. Melalui sosialisasi yang kreatif termasuk muatan kurikulum, media cetak, elektronik dan media sosial. QS Al Isro’ ayat Ayat 26-27 : adalah seruan dan panduan mengantisipasi persoalan ekologi yang tetap relevan sampai kapan pun bahkan sekarang telah menjadi isu global.

”Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.”

Seruan nahi munkar di bidang lingkungan :

“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Rum: 41-42).

Kader Muhammadiyah ‘Kader Hijau’

Di saat bencana lingkungan yang terus membesar dan meluas. Aktualisasi Islam ramah lingkungan adalah sebuah keniscayaan, diksi ‘islam hijau, islam ekologis, islam rahmatan lil alamin’ adalah salah satu sisi Islam yang menyelamatkan lingkungan dan memastikan bahwa “Seorang muslim adalah seseorang yang menjamin orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya” (HR. Muslim no. 64, Bukhari no.10).

Baca Juga:  Sukses Besar Jambore Panti Asuhan Muhammadiyah dan Aisyah di Purbalingga: Membangun Ukhuwah Islamiah dan Menggali Potensi Anak Asuh

Dengan demikian, kita harus memastikan tindakan kita tidak membahayakan keselamatan makhluk hidup lain, baik manusia maupun non-manusia. Namun, seringkali terjadi distorsi di mana pembangunan dan kesejahteraan justru menyebabkan kerusakan lingkungan. Prosedur kelayakan lingkungan yang seharusnya dilakukan sebelum pembangunan. Terkadang menjadi terbalik karena intervensi politik mereka membangun dulu, baru syarat lingkungan (AMDAL) menyusul.

Pedoman Hidup Islam Warga Muhammadiyah (PHIWM) menyusun konsep kepedulian Muhammadiyah terhadap lingkungan hidup yang harus diamalkan secara nyata oleh seluruh warga Muhammadiyah. Jika tidak beramal, mereka tidak mengimplementasikan nilai sebagai warga Muhammadiyah. Amal shalih ini terus bertransformasi sesuai kebutuhan zaman. Hal inilah yang membedakan kultur Muhammadiyah dengan ormas lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *