FUNGSIONALISASI AGAMA DALAM KEHIDUPAN

Opini307 Dilihat

Rudi Pramono, SE - Ketua MPI PDM Wonosobo

Oleh: Rudi Pramono, SE(Ketua MPI PDM Wonosobo)

Pemberdayaan masyarakat, Lazismu dan Kebencanaan menjadi trisula baru Muhammadiyah di abad ke 2 setelah pendidikan, kesehatan dan sosial yang sukses. Terkait pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu transformasi baru model pendidikan Muhammadiyah. Muhammadiyah menerapkan pemberdayaan masyarakat dengan berorientasi pada praktis dan teknis, sehingga langsung bermanfaat dan diterapkan.

Fungsionalisasi agama dalam kehidupan menjadi pemikiran Muhammadiyah dari masa ke masa dan diwujudkan dalam praksisme gerakan Islam dengan Rujukan teologis dalam. QS Al Ma’un, QS Al ‘Ashr, QS Al Alaq, QS Ali Imran 104,110, QS. At Taubah : 34, QS. Al Jatsiyah : 23; Qs. At Taqassur adalah beberapa ayat-ayat Al Qur’an yang sering menjadi spirit dan ruh aktifis persyarikatan.

Baca Juga:  Pemilu Berintegritas, Sebuah Harapan atau Sekedar Slogan?

Dengan fungsionalisasi ajaran agama tersebut dalam pembangunan masyarakat bermakna bahwa aktifis gerakan Muhammadiyah harus terlibat aktif dalam mengatasi persoalan2 kemasyarakatan (duniawi) baik lewat Muhammadiyah maupun lembaga-lembaga masyarakat lainnya. Pimpinan Muhammadiyah tidak boleh jumud dan beku, harus aktif dan dinamis Sesungguhnya beragama tidak semata spiritual dan akhirati tapi berimplikasi sosial dan muamalah duniawiyah. Penghayatan dan pengamalan agama mengacu pada prinsip keterpaduan iman dan amal shalih dan amal shalih itu terus berkembang, kontekstual dan tranformatif menyesuaikan dengan kebutuhan jaman. Model keberagamaan ini merupakan bagian dari kewajiban melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid dalam ranah kemasyarakatan. Hasilnya, Muhammadiyah menjadi elit dalam masyarakat.

Baca Juga:  PDM Banyumas Kukuhkan 306 Kader Jadi Pengurus Muhammadiyah

Van Peursen menggolongkan tahap pemikiran agama yang demikian sebagai tahap pemikiran fungsional yang merupakan ciri pemikiran masyarakat modern. Pertama, Memaknai agama dari segi fungsinya dalam kehidupan. Kedua, Ajaran agama langsung diterjemahkan secara kontekstual dengan masalah kongkrit. Ketiga, Terbuka terhadap ilmu pengetahuan baru. Oleh karena itu layak kalau Muhammadiyah mendapat julukan gerakan modernisme Islam.

Semangat Pemberdayaan Masyarakat
Inilah sejatinya salah satu makna keberagamaan kita sebagai warga Muhammadiyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *