ANTARA AYAHKU, LAMPU DAN TERIAKAN IBU DI PAGI ITU

Khazanah, Opini99 Dilihat

Benny Hendrawan

HERMAAN, Bennyy, Yerriii, banguuun, sahuuuuuurr..!!” Suara itu begitu kukenal, meskipun dalam kondisi setengah sadar antara bangun dan tertidur. Mendengar panggilan itu, biasanya kami akan mengeluarkan respon yang sama, “iyaa miiii.., nanti sebentar lagiii…“, teriak kami kompak sambil menarik selimut lebih tinggi.

Ya, itulah suara ibuku yang begitu lantang membangunkan anak-anaknya untuk bersantap sahur. Jangan ditanya suasana rumah di pagi buta itu. Pada awal tahun 1980-an, suasana di rumah kami masih gelap gulita karena desaku belum dialiri listrik, meskipun hanya berjarak 29 kilometer dari ibukota provinsi. Satu-satunya sumber penerang bagi rumah kami dan rumah- rumah lain di Desa Lalang Sembawa, Banyuasin, Sumatera Selatan saat itu, hanyalah lampu ‘strongkeng’ atau lampu petromaks, yang itupun baru dihidupkan saat menjelang waktu sahur tiba.

Oh iya, jauh sebelum ibu membangunkan kami, sebenarnya beberapa saat sebelumnya, lamat-lamat aku mendengar suara langkah kaki ayahku yang bangun dari peraduan dan hendak menghidupkan lampu petromaks yang tergantung di bawah plafon rumah. Tak lama, kudengar suara tangan ayahku yang memompa lampu dengan diiringi suara ‘ocehan’ nya yang khas. “Crook crook kocrook kocrokk…” terdengar suara lampu minyak yang melegenda itu dipompa oleh ayahku. “Sssstt…ahh, ssstt…ahh, sssttt…ahhh…” Terdengar suara mendesah yang bersumber dari sumbu lampu, saat tuas bulat berwarna merah itu diputar kekiri dan kekanan. Tujuannya tentu agar lampu legendaris itu dapat menyala dengan sempurna.

Baca Juga:  PAJAK ITU HARAM

Belum sampai disitu. Ayahku memang terkenal sering tidak puas dengan kinerja lampu itu. Walaupun sudah terang berderang, namun tetap saja tangan lincah ayah terus mengutak-atik nyala lampu yang sudah terang itu. Akibatnya bisa ditebak, sang lampupun padam dan ibuku menggerutu sejadi-jadinya. “Naahhh kan, tulen nian ujikuu..” (Nah kan, benar kataku, red) gerutu ibuku.

Begitulah kelakuan ayahku yang terus berulang, dari awal puasa hingga selesai ramadhan. Mendengarkan suara berisik akibat ‘keributan kecil’ antara ayah dan ibuku dinihari itu, seisi rumah tidak bisa tidur lagi karena adanya adu argumentasi yang demikian seru antara beliau berdua.

Betewe, sambil menunggu ibuku menyiapkan santap sahur, ada satu adegan menarik yang pasti dilakoni ayah setiap kali beliau bangun sahur, (sampai akhir hayatnya) yakni menghidupkan radio transistor kesayangannya dengan membuka saluran ‘Sekali di Udara Tetap di Udara’. Lamat-lamat terdengar sampai ke kamarku, suara pembacaan ayat-ayat suci Al Quran oleh Qori kenamaan Muammar ZA dari radio ayah. Suara qori itu terdengar begitu syahdu, apalagi diiringi suara jangkrik yang berasal dari sela-sela dinding rumahku.

Baca Juga:  Slilit Sang Kiai

Jangan ditanya saluran radio FM dengan suara penyiarnya yang cuap-cuap. Saluran yang ada saat itu adalah SW dan MW. SW adalah saluran radio dalam negeri seperti RRI dan radio swasta lainnya. Sedangkan MW adalah saluran radio luar negeri seperti radio BBC London dan RTM Malaysia yang biasanya rajin menyiarkan acara “Titian Muhibah”, sebuah acara yang ngetop banget pada zamannya. Semua saluran radio itu adalah mono-band atau non-stereo. Jadi jangan harap dari radio itu akan keluar suara yang kinyis-kinyis.

Kembali ke ayah ibuku. Begitulah, kami pun akhirnya bangun dan langsung bersantap sahur bersama. Tidak ada acara cuci muka segala. Semua lauk yang tersedia langsung diserbu dengan sukacita. Lauk yang tersedia saat itu adalah lauk sisa berbuka tadi sore, meskipun ada juga yang dibuat khusus untuk sahur di pagi buta itu. Hmmm…., masakan racikan ibu memang tiada duanya dan selalu mengundang rasa rindu yang terus membuncah.

Baca Juga:  PENYEBAB HANCURNYA SEBUAH NEGERI

Begitulah, suasana sahur di tempatku pada medio 80. Saat itu, sahur selalu “rame” dengan ulah ayah dan ibuku. Dan kejadian ini terus menerus berulang dari tahun ke tahun. Hingga akhirnya, ayah dan ibuku semakin lanjut usia dan wafat di usia 83 dan 72 tahun. Kini tak ada lagi suara ‘cerewet’ ibuku, dan perilaku lucu ayahku. Untuk beliau berdua, kupersembahkan doa yang tulus, semoga kebersamaan kita selama bulan ramadhan yang lalu, akan mendapat pahala jariyah yang berlimpah dari Allah SWT. Amin Ya Rabbal Alamin. Al-fatihah.

Kok aku jadi mewek sih?😢🥺

Depok disaat hujan, 06/04/2024
*) Dr. Benny Hendrawan, Asesor SDM Ahli Madya, Biro SDM Kemendikbudristek Jakarta, Psychologist and OD Specialist.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *