SKAK MAT

Opini131 Dilihat

Benny Hendrawan

PERNAH suatu ketika, di awal tahun ajaran baru 1988/1989, di minggu-minggu pertama menjadi siswa baru SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta, aku mengalami peristiwa “komunikasi” tak terduga yang terjadi di dalam angkot KOBUTRI jurusan Suryowijayan – Patangpuluhan, Yogyakarta.

Cerita ini berawal ketika aku baru saja hapal dengan kalimat “keramat” yang diajarkan oleh kakakku, yang nanti akan menjadi bekal penting bagi orang-orang pendatang baru sepertiku.

Kalimat “keramat” yang baru kuhapal itu adalah, “Nuwun sewu, kulo mboten saget ngomong basa Jawi” (Mohon maaf, saya tidak bisa ngomong dalam bahasa Jawa, red). Tujuannya adalah, untuk menyelamatkanku agar tidak merasa malu saat ada orang lain yang mengajakku berbicara dalam bahasa Jawa.

Kok bisa? Jangan salah Ferguso, pada masa itu, penggunaan bahasa Jawa masih sangat intensif dan masif dalam percakapan sehari-hari, nggak peduli dengan orang perantauan baru sepertiku yang hanya bisa cengengesan sambil garuk-garuk kepala ketika diajak berbicara dalam bahasa Jawa.

Berbeda dengan sekarang, penduduk Jogja sudah lebih heterogen dan terbuka dengan para pendatang, sehingga bahasa Jawa tidak lagi menjadi satu-satunya bahasa pengantar dalam berkomunikasi, khususnya dengan wisatawan atau dengan orang-orang pendatang baru sepertiku.

Baca Juga:  Relevansi Tutur Kata sebagai Tolak Ukur Kehormatan dalam Masyarakat Jawa

Kembali ke laptop. Jam 06.15 WIB, seperti biasa aku akan berangkat ke sekolah dengan menumpang angkot Kobutri. Sesampainya di dalam bus engkel legendaris ini, ada seorang ibu yang sudah sepuh (simbah, lebih tepatnya) dengan berpakaian Jawa, memakai jarik, dan membawa bakul yang terbuat dari anyaman bambu, tiba-tiba dengan ramahnya menegurku dengan kalimat yang kira-kira seperti ini, “Badhe tindak pundi mas?” Makjleebb. Akupun cengengesan sambil garuk-garuk kepala. Aku harus menjawab apa ya? Aku tidak tau maksud pertanyaan simbah ini.

Ahaa.., tenang saja Benny, si ibu itu pasti menanyakan kepadamu tentang apakah kamu akan berangkat ke sekolah? Bukankah kamu sekarang pakai seragam sekolah?” Pikirku sok tau sambil mencoba merekonstruksi maksud pertanyaan ibu tadi. Maka, dari hasil rekonstruksi itu, pertanyaan ibu tadi dengan serta merta dan percaya diri kujawab, “Nggiiih, mbaah..(Iyaa, mbaaah..)“.

Baca Juga:  Merawat Kebhinekaan Indonesia

Tapi, heii.., rupanya simbah itu terlihat tidak puas dengan jawabanku. Lalu ia bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama. “Badhe tindak pundi mas?” Merasa tidak ada yang salah dengan jawabanku, lalu kujawab lagi pertanyaan ibu itu dengan jawaban yang sama, “Nggih, mbaahh…”. Lalu, seperti sudah diduga, si ibu itu kembali bertanya padaku, “Badhe tindak pundiiii….?” tanya si ibu dengan suara sedikit keras sambil membetulkan letak susur (sirih, red) yang terdapat di bibirnya. “Waduhh, ibu ini budek apa ya, sudah dijawab kok masih saja bertanya? Apa dia nggak melihat baju sekolah yang sekarang aku pakai ini?”, pikirku dalam hati.

Saat aku hendak menjawab yang keempat kalinya, tiba-tiba saja ada penumpang lain yang sedari tadi ikut mendengarkan percakapan “tidak seimbang” kami, ikutan nimbrung. Ia juga seorang ibu-ibu, tapi usianya jauh lebih muda dari ibu yang pertama. Dia bilang padaku sambil tersenyum, “Mas, simbah ini nanya, mas-nya mau kemana..?” katanya.

Upsss…! Aku malu dan terpana. Pantas saja simbah itu bolak-balik bertanya, wong jawaban yang kuberikan ternyata tidak nyambung dan tidak menjawab keingintahuannya sama sekali. Merasa bersalah, sambil membungkuk malu, aku lalu menghaturkan permohonan maaf dengan kalimat “keramat” yang sebelumnya sudah kuhapal di luar kepala.

Baca Juga:  Dua Penyakit Berbahaya

Oh, nuwun sewu mbah, kulo mboten saget ngomong basa Jawi.. (Oh, mohon maaf mbah, saya tidak bisa ngomong dalam bahasa Jawa)” kataku gelagapan. Mendengar jawaban dariku, simbah itupun langsung membalas dengan cepat, “Lha kuwii, saget ngomong basa Jawi?(Lha ituu, bisa ngomong bahasa Jawa?)“, tukas si ibu itu kalem sambil lagi-lagi membetulkan letak susur di mulutnya. OMG, skak matttt!

Akupun garuk-garuk kepala sembari cengengesan seperti Wiro Sableng yang saat itu buku novelnya lagi laris manis dan booming di tanah air. Payah kamu Ben, lawan simbah aja kamu kalah😂 Ckk..ckk..ckk.

Repost | Depok, 11/4/2024
*) Dr. Benny Hendrawan, Asesor SDM Ahli Madya, Biro SDM Kemendikbudristek, Psychologist and OD Specialist. Alumni SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *