POLITIK OH POLITIK

Opini237 Dilihat

Pujiono

Politik itu siasat, strategi pemilihan.
Politik itu kontestasi kekuasaan.
Politik itu konflik perdebatan dan kolaborasi kerjasama. Terjadi konflik memperebutkan, dan kerjasama satu tujuan.

Kebijakan politik itu reorganisasi, penataan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Politik itu tidak sebatas yang nampak di mata. Bisa jadi “kelon ning ora nyoblos (tidur bersama tapi tidak bersetubuh). Diatas kertas dengan A, tapi pilihan jatuh di B“.

Politik itu bisa “ngusung“, tapi kenyataannya tidak “ndukung“. Aku ngusung kamu, tapi secara masif dukung yang lain. Tapi juga bisa temen-temen ngusung dan dukung.

Baca Juga:  PILPRES 2024 DAN AMIEN RAIS SYNDROME

Politik itu suci, bila untuk tujuan mulia.
Politik itu kotor bila sebatas untuk dapat kue jabatan, tanpa mengindahkan Etika dan Norma yang ada.

Politik itu kejam saling sandra demi ambisi kekuasaan. Banyak yang menjatuhkan harga diri, nyawa dan melanggar norma agama.

Politik itu tak ada musuh dan teman abadi. Yang abadi kepentingan. Tahun ini koalisi, tahun depan bisa kontestasi.

Politik Oh, Politik

Ada aktor politik, cost politik, money politic, partai politik dan kebijakan politik.

Umat Islam sudah saatnya “Melek Politik“. Biar tidak hanya menjadi Komoditas Politik.

Baca Juga:  PALESTINA MASIH MERANA

Jadikan pengalaman pahit untuk kemenangan. Jangan hanya pandai bicara, tapi miskin aksi nyata. Jangan hanya jadi pengamat atau penikmat. Saatnya komentator menjadi aktor.

Tapi “yo kuwi” perlu di eling-eling (diingat-ingat) : Politik itu Demokrasi. Demokrasi itu yang menang “Jumlah Kepala” bukan “Isi Kepala“. Terlebih bagi rakyat yang tahunya sebatas amplop politik.

Maka “tinimbang ngopeni” (daripada memelihara) “wong tanggung sok intelek” yang susah diatur, lebih baik ngopeni orang “masa bodoh” yang “nurut” (loyal) kalau ingin menang.

Baca Juga:  Islam Melarang Politik Uang

Sudah siapkah umat Islam dengan permainan ini?

Strategi kemenangan politik perlu dibangun. Dan kadangkala butuh kelegawaan para aktor politik serta butuh waktu yang panjang. Bagaimana PKI bisa menang di Pemilu tahun 1955. Karena strategi infiltrasi, kuatnya ideologi dan kultural. Mosok umat Islam kalah militansinya atau lemah ideologi.

Sudah saatnya Anda menjadi aktor, bukan hanya komentator.

Hujan Gerimis di Teras, 17 Februari 2024

*) Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Program Khusus Banyudono, Boyolali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *