PEDOMAN DAKWAH

Pesan2 Tuhan

Opini121 Dilihat

Margo Hutomo

Allah Swt. berfirman:

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

Artinya :
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk“.
(Qs. An-Nahl : 125)

Ayat ini diturunkan untuk menjadi pedoman dakwah bagi para mubaligh atau da’i yang ada di lingkungan umat Islam. Dan untuk dapat dilaksanakan dengan baik, tentu membutuhkan pemahaman. Sehingga diharapkan tidak bergerak secara liar dengan menuruti hawa nafsu manusia.

Baca Juga:  Manusia: Akal, Jiwa dan Akhir Hidup

Secara bahasa, kata dakwah berasal dari bentuk kata _da’aa-yad’uu_ artinya mengajak, memanggil atau menyeru. Dan secara istilah, artinya segala aktifitas seruan kepada individu atau umum ke arah yang positif, baik dan benar dengan berlandaskan Al Qur’an dan As-Sunnah, sehingga obyek dakwah berhati tauhid, bertutur, berfikir, bersikap serta bertindak sesuai dengan yang diridhai Allah Swt (tujuan dakwah).

Ayat itu menyebut kata “Rabbun” yang maksudnya adalah dakwah yang diridhai-Nya ialah dakwah yang mengandung sifat meneladani, melindungi, mengayomi, menyayangi, mengasihi, menuntun dan mengajari obyek dakwah sehingga tercapai kemajuan dan kesejahteraan lahir batin. Contohnya, santunan bencana alam, kasih sayang kepada pihak yang lemah, menciptakan lapangan kerja, memilih pemimpin yang bertauhid, adil dan bijaksana, dan sebagainya.

Baca Juga:  Pemilu Berintegritas, Sebuah Harapan atau Sekedar Slogan?

Adapun tata caranya ada 3 bentuk, yaitu :

Pertama, Al-hikmah, maknanya kendali atau pedoman (arti bahasa) atau sesuatu yang apabila digunakan akan menghasilkan kebaikan dan kebenaran.

Dengan al-hikmah sesuatu akan bergerak dengan tidak liar, sesuai dengan yang diinginkan.
Contohnya : kemudi mobil, norma negara, tali hidung sapi, penutup mata kuda. Obyek dakwah dari cara ini adalah kaum cerdik pandai, akademisi dan kalangan intelektual.

Kedua, Al-mauidhah al-hasanah, artinya nasehat yang baik, menyentuh hati, memotivasi, memberi semangat dan harapan, serta rasa gembira kepada obyek dakwah untuk menjalankan isi kandungan Al-Qur’an.
Obyek dakwah dari cara ini ialah khalayak umum, umat dan masyarakat kebanyakan.

Baca Juga:  Merdeka Itu Murah Pangan dan Murah Sandang

Ketiga, Wa jaadilhum billatii hiya ahsan, artinya berdiskusi, berdialog maupun berdebat dengan tata cara yang terbaik.

Jadal artinya melilit atau memintal. Maksudnya mengeluarkan pendapat dengan landasan argumentasi (ilmu, data, fakta) yang dapat mengalahkan argumentasi partner diskusi, dialog serta lawan debat.
Obyek dakwah dari cara ini ialah para ahli kitab (yahudi dan nasrani).

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa Islam dengan Al-Qur’an (Konsep) dan As-Sunnah (Praktek) adalah agama dan jalan hidup yang lebih mengedepankan rasa hormat, cinta kasih dan sayang kepada sekalian alam.
Wallahu ‘Alam

Batang, 24 Desember 2023.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *