JANGAN BERHENTI MENJADI ORANG BAIK

Khazanah, Opini114 Dilihat

Khafid Sirotudin

Sebulan lalu, selepas jamaah maghrib, saya berkunjung ke warung sate ayam kampung dan soto kare ayam, warung “klangenan” suwargi Bapak kami dan pak Tunut (pemilik warung) masih hidup. Keduanya pedagang Pasar Weleri I lama, sebelum dipugar tahun 1995. Lokasinya saat ini berada di pinggir jalan menuju kantor PLN, menempel “emperan” (teras) kantor UPT Pasar Weleri I, sebelah barat kantor Pos Weleri. Meski warung kaki lima, tapi sangat bersih makanan, minuman, tempat dan peralatannya. Satu-satunya warung sate ayam yang berbahan baku ayam kampung, dengan irisan dagingnya yang tebal.

Sambil duduk lesehan di tikar menunggu pesanan matang, tiba-tiba ada seorang perempuan memarkir sepeda motor di sebelah utara warung. Sambil menyandarkan motor dan melepas helm, saya perhatikan beberapa ekor kucing mendekat dari dalam dan luar pagar Pasar Weleri, Semenit kemudian, perempuan itu menaruh ransum kucing di sebelah pojokan dan membagi ke beberapa titik tempat pakan. Puluhan kucing terlihat menikmati sedekah “makan malam” yang diberikan orang baik itu. Sambil mengelus kepala beberapa kucing yang sedang makan, wanita itu terlihat tersenyum bahagia.

Tidak sampai 10 menit, wanita tersebut selesai menunaikan hajatnya dan hendak kembali menuju motornya. Sayapun mendekat dan menyapanya :

Mbake griyane pundi (mbak tinggal dimana)?”

“Saya desa Weleri pak”, jawabnya sambil merapikan kantong makanan kucing yang masih terlihat cukup banyak.

Pun dangu maringi maeman kucing teng mriki (Sudah lama memberi makanan kucing disini)?”, tanya saya.

“Sampun sak antawis, sakbibare pasar kobongan (Sudah cukup lama, setelah pasar Weleri I terbakar : 12 November 2020)”, jawabnya.

“Pamit riyin nggih pak, tasih kedah nimbal nggen sanese, mesakke kucinge pun dho nenggo (Permisi pamit dulu, masih harus mendatangi tempat lain, kasihan kucingnya sudah pada menunggu)”, terangnya sambil menstarter kendaraan.

_”Nggih, ngatos-ngatos mugi-mugi rejekine berkah lan kathah (Ya, hati-hati di jalan, semoga rejekinya berkah dan banyak)”_, kata saya sambil menyatukan kedua telapak tangan.

“Amin ya Allah, maturnuwun doanya pak”, jawabnya sambil menjalankan kendaraan.

Menurut penuturan penjual sate ayam, putranya pak Tunut, wanita tadi setiap hari selalu datang memberikan makanan untuk kucing-kucing liar yang bertempat tinggal di sekitar pasar. Bahkan dikala kondisi hujan, dia tetap datang memakai jas hujan. Sebuah kebiasaan baik, amal shalih, sedekah jariyah untuk sesama makhluk Tuhan. Bukankah hewan juga makhluk Tuhan yang juga diberi hidayah ilhami (instingtif/naluri) dan hawasi (inderawi) sebagaimana manusia.

Baca Juga:  Renungan Demokrasi tentang Politik Uang

Gemar sedekah, berderma, memberi, berbagi, menolong merupakan perbuatan baik, terpuji dan dipuji oleh semua insan dari segala kalangan strata sosial, suku, agama dan ras. Tak terkecuali manakala dilakukan seseorang yang dinilai warga mempunyai pekerjaan tercela atau memiliki status sosial yang dianggap rendah di tengah masyarakat. Misal, seorang rentenir yang gemar berbagi makanan pokok secara berkala kepada para tetangganya yang fakir dan miskin. Atau pengecer judi togel yang rela menyumbangkan banyak uang untuk pembangunan masjid dan mushola di lingkungan tempat tinggalnya.

Sejujurnya, saya tidak suka memelihara kucing apalagi anjing di rumah. Pernah suatu ketika, ada sahabat dan teman dekat mau memberi beberapa ekor kucing Persia dan seekor anjing Rottweiler jantan yang sudah terlatih, komplit dengan kandangnya. Mereka bilang buat bantu menjaga rumah. Saya menolak halus niat sahabat dan teman saya itu. Bukan soal halal haram dan najisnya air liur anjing, toh air kencing dan tai kucing juga najis. Kami mempertimbangkan rasa-cipta-karsa sebagai seorang Jawa Muslim yang tidak berkenan dan tersinggung manakala disapa dengan sebutan “kaji asu” (seorang haji memelihara anjing). Apalagi kami bertempat tinggal di kampung dengan penghuni muslim 99 persen, dimana lokasi rumah dekat dengan mushola dan sebuah pondok pesantren.

Saya lebih menyukai memelihara tanaman dan burung yang “manggung” (burung perkutut, deruk, puter, dll) daripada burung “berkicau” (murai, cucak rowo, trocok, dll). Sedangkan burung yang saya pelihara di rumah, semua ketakutan jika melihat kucing berada di bawah sangkarnya apalagi jika kucing berusaha mendekatinya. Semua bulu-bulu pada sayap dan badan bisa “mbrodholi” (terlepas) karena menabraki sangkar dan ingin terbang keluar kandang.

Bersyukur istri saya wanita yang shalihah dan bijaksana. Meskipun menyukai kucing, tetapi tidak memelihara kucing di dalam rumah. Istri saya menempatkan 2-3 kotak makanan kucing di satu titik lokasi teras depan sisi kanan rumah. Setiap malam sepulang dari toko, sekitar jam 21.00-an, istri rajin menaruh makanan kucing di kotak tersebut. Takjubnya, setiap kali istri tiba di rumah, beberapa kucing mendekat seakan mengucapkan salam sejahtera dengan beragam auman suara “meong”. Ada juga kucing yang berani menempelkan badannya ke kaki istri. Dan ritual sedekah makanan kucing tersebut, telah dilakukan secara tuma’ninah (tertib) dan istiqomah (konsisten) sejak puluhan tahun lalu hingga sekarang.

Acapkali saya amati sambil menyirami tanaman di malam hari. Sebuah kebiasaan lama saya setiap saat pulang rumah agak larut malam. Saya saksikan puluhan kucing mendatangi kotak pakan secara bergantian. Kebanyakan kucing rumahan dan sebagian kucing tidak bertuan/liar. Ada juga kucing lokal, angora dan persia berkalung khusus, menandakan kucing peliharaan tetangga satu kampung. Lama kelamaan hati sayapun luluh, tatkala istri menyampaikan niat dan hasrat memelihara 5 bayi kucing yang ditemukan di dekat toko. Anakan kucing berusia 2-3 hari itu dibuang orang dan ditaruh di dalam kardus. Sebuah perilaku tidak manusiawi dari pemelihara kucing yang tidak bertanggung jawab terhadap kehidupan makhluk Tuhan.

Baca Juga:  PAP Ar-Rahmah

Akhirnya hanya 2 kucing yang bisa diselamatkan, meski istri sudah berusaha mendatangkan dokter hewan guna memberikan pertolongan dan perawatan secara berkala. Tiga ekor kucing mati terpapar virus. Kami beri nama kedua kucing itu, Ipin (jantan) dan Gembil (betina). Hampir 3 tahun Ipin dan Gembil menjadi penghuni rumah kami. Ipin sering menemani istri jika hendak shalat berjamaah di mushola dekat rumah. Jamaah dan warga kampung sudah memaklumi, sebagaimana saya berusaha berdamai hati dan memahami kegemaran istri memelihara kucing. Saya atau ART yang harus menyesuaikan diri, terutama jika sedang membersihkan sangkar dan memberi pakan untuk burung peliharaan di rumah.

Kadangkala masih keluar rasa “mangkel” (jengkel) juga tatkala kami sedikit terlena. Si Ipin dan Gembil tiba-tiba berulah terhadap burung peliharaan saya. Atau naik ke meja makan mengambil ikan goreng karena lalai menutup lauk-pauk dengan tudung saji. Sesekali Gembil membawa bangkai tikus kecil, cicak, bunglon dan burung seriti ke dalam rumah. Dari penuturan istri, saya baru mengetahui, jika Ipin atau Gembil membawa aneka bangkai hewan tangkapan ke rumah, maknanya sebuah persembahan bagi tuan dan puan yang telah memeliharanya.

Berbuat Baik

Menurut ustadz tempat saya mengaji tafsir “jalan lain”, kata “baik” (bahasa Indonesia) banyak diartikulasikan di dalam bahasa Al-Qur’an dengan penyebutan berbagai lafadz, diksi atau kata. Diantaranya : khair (lawan kata _”syarr”_), hasanah (lawan kata _”as-sayyi’ah”_), shalih (lawan kata _”fasad”_), makruf (lawan kata _”munkar”_), al-birru (lawan kata _”al-uquq”_). Pada kitab terjemahan al-Qur’an, berbagai kata tersebut lazim diterjemahkan sama dengan kata “baik”. Meski dirasa kurang pas, tetapi kita wajib memaklumi atas keterbatasan diksi atau kata dalam bahasa Indonesia untuk menerjemahkan lafadz di dalam kitab suci.

Menjalankan amal shalih (laku kebaikan) serta berbuat makruf (baik) mensaratkan sikap, laku sosial dan pembiasaan yang terus menerus, berkesinambungan dan istiqomah (konsisten). Begitu pula dengan amal salah/fasad (laku keburukan) serta berbuat munkar (buruk) yang juga mensaratkan kebiasaan dalam realitas kehidupan sosial. Sayangnya perbuatan baik biasanya berjalan lambat laksana deret hitung, sementara perbuatan buruk berjalan lebih cepat laksana deret ukur. Sebagaimana pepatah mengatakan “alah bisa karena biasa”.

Baca Juga:  MEMILIH PEMIMPIN

Laju penyakit menular berkembang sangat pesat dan lebih cepat, dibandingkan penemuan beragam jenis obat penyembuhnya yang selalu berjalan lebih lambat. Begitupun dengan tingkat kejahatan yang selalu berjalan jauh di depan ketimbang langkah pencegahan dan tindakan penegakan hukum yang tertinggal di belakang. Kebiasaan baik dipastikan selalu ketinggalan dibandingkan kebiasaan buruk. Sejalan dengan sumpah dan tekad Iblis sebelum dikeluarkan dari surga-Nya, disebabkan sikap takabur/angkuh/sombong/congkak. Iblis tidak mau mengikuti perintah Tuhan agar “menghormat” kepada Adam.

Sebagai khalifah di bumi, manusia diperintahkan Allah Tuhan Yang Maha Esa agar beriman dan bertauhid, senantiasa beribadah dalam menjalani kehidupan di dunia. Kita dituntut dan dituntun untuk selalu berbuat baik, beramal shalih, menjaga keharmonisan alam semesta dan membina relasi sosial kesemestaan dengan saling asah-asih-asuh sesama makhluk ciptaan Tuhan. Semua sikap, tindakan dan perilaku yang baik untuk mengharap keridhaan Allah adalah ibadah. Termasuk suka berinfak dan sedekah makanan kepada kucing yang tidak kita pelihara di rumah.

Tuhan menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Allah Azza wa Jalla menciptakan jutaan jenis hewan dan tanaman di alam semesta (makro kosmos dan mikro kosmos) untuk mendukung kehidupan manusia. Allah Tuhan Semesta Alam menciptakan matahari menyinari seisi bumi tanpa kecuali. Jangan merasa lelah apalagi menyerah untuk selalu berbuat baik selama hayat masih dikandung badan. Kita harus berihtiar optimal untuk terus menerus beramal shalih, walaupun kelihatannya remeh, nilainya kecil serta tidak terlihat oleh khalayak.

Allah Swt. telah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 195, yang artinya :

_”Dan infakkanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan diri sendiri dengan tanganmu ke dalam kebinasaan. *Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik*”_.

Nabi saw. memaklumatkan umatnya untuk memiliki sebuah “amal unggulan”. Yaitu sebuah amal shalih, laku kebaikan yang (meskipun) terlihat kecil dan dianggap “remeh-temeh” kebanyakan masyarakat, tetapi kita dapat melakukan secara tuma’ninah (tertib), terus menerus atau rutin, serta berkelanjutan di dalam kehidupan keseharian. Jangan lelah melakukan ihsan, memiliki semangat untuk senantiasa beramal shalih dan berbahagia dalam menunaikan infak sedekah.

*Jangan berhenti menjadi orang baik*.

Wallahu’alam

_Weleri, Senin 27 Mei 2024_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *