IMAM SADAR TUPOKSI

Opini277 Dilihat

Wahyudi Nasution

Tamu Pak Bei malam ini namanya Suwarno, biasa dipanggil Mas Warno. Rumahnya masih satu kecamatan dengan Pak Bei, di kecamatan Jatinom, Klaten, sekitar 3 km dari nDalem Pak Bei. Perawakannya sedang.

Meski berprofesi sebagai tukang bangunan, biasa kerja fisik, tapi penampilannya cukup bersih terawat. Tutur bahasanya juga sopan. Itu mungkin karena dia biasa menjadi imam sholat rawatib di masjid kampungnya, terutama maghrib, isya’, dan shubuh. Bahkan, sesekali dia juga menjadi khatib Jumat meski statusnya hanya cadangan. Begitu ceritanya.

Sebenarnya bukan karena saya lebih paham ilmu agama dan fasih mengaji, Pak Bei. Bukan. Tapi jamaah yang minta supaya saya menjadi imam. Saya anggap itu sebagai amanah dan tidak boleh ditolak,” kata Mas Warno.

“Betul itu, Mas. Syarat sholat jamaah memang harus ada imam dan makmum. Imam tidak perlu diperebutkan, jadi tidak perlu pakai pemilihan umum. Cukuplah bila jamaah menyepakati salah seorang menjadi imam untuk diikuti. Kebetulan mas Warno yang dituakan dan diamanahi menjadi imam,” Pak Bei merespon.

Iya, Pak Bei. Tapi setiap mau Pemilu seperti sekarang ini saya jadi merasa repot” keluhnya.

“Kenapa repot? Kan sudah biasa ada Pemilu, Pilpres, Pilgub, Pilkada, Pilkades?”, kata pak Bei setengah bertanya.

Baca Juga:  BERKAH ZAMZAM, MULTAZAM UNTUK PERSYARIKATAN

Ya itulah, Pak Bei. Menjelang Pemilu kali ini, jamaah bertanya besok kita mau milih siapa untuk Capres Cawapres, untuk DPD, DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten.

“Wah bagus itu jamaahmu. Terus bagaimana jawabmu, Mas?”

Kemarin saya jawab bahwa saya harus cari informasi yang agak lengkap dulu, terutama tentang ketiga pasangan Capres-Cawapres“.

“Lha yang untuk DPD, DPR, dan DPRD bagaimana?”

Yang itu tidak terlalu penting, Pak Bei.

“Tidak terlalu penting bagaimana, Mas?”

“Selama kita tidak tahu apa kerja mereka di gedung Dewan, Pak Bei. Kita tidak tahu apa yang mereka perjuangkan. Yang kita tahu, justru banyak anggota Dewan ditangkap KPK karena korupsi”.

“Kan cuma sedikit diantara sekian ratus anggota Dewan, Mas Warno. Jangan terus ‘gebyah uyah‘_(semua dianggap sama) seolah semua anggota Dewan jadi maling.”

“Saya masih ingat pelajaran jaman sekolah dulu, Pak Bei. Ada 3 tugas dan fungsi DPR, yaitu legislasi, budgeting, dan pengawasan. Kalau tiga fungsi itu dilakukan dengan baik dan benar, pasti negara kita jadi adil-makmur. Tapi ternyata yang terjadi justru rusak-rusakan. Korupsi merajalela di mana-mana, hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas alias tebang pilih, terjadi krisis pangan dan beras, harga-harga kebutuhan hidup naik terus, banyak terjadi penggusuran tanah milik rakyat atas nama Proyek Strategis Nasional, juga terjadi PHK massal karena pabrik- pabrik bangkrut, kasus kriminalitas juga semakin meningkat, dan sebagainya. Itu jelas biangnya karena anggota Dewan tidak melaksanakan tupoksinya dengan benar, bahkan mungkin ikut kongkalingkong melanggar hukum dan konstitusi.”

Wah berat. Seorang imam masjid kampung dan tukang bangunan sudah punya kesan yang buruk terhadap kondisi negara. Parahnya lagi, dia punya kesimpulan anggota Dewan yang menjadi biangnya.

Baca Juga:  Gonjang-ganjing Daulat Pangan

“Jadi kayaknya besok kita cukup milih Capres-Cawapres saja, Pak Bei.”

“Kenapa begitu?”

“Belajar dari pengalaman, Pak Bei. Negara ini mau terus rusak-rusakan begini atau mau berubah menjadi lebih baik, menjadi lebih adil makmur dan maju atau mundur, itu tergantung siapa Presidennya. Ini yang kukatakan pada jamaah kemarin, bahwa saya mau mencari dulu informasi yang ‘jangkep’ (lengkap) agar nanti bisa memilih Calon Presiden yang terbaik.”

“Caranya, Mas?”

“Sejauh ini saya memang belum ‘nggagas’ soal pilihan, Pak Bei. Masih suntuk dengan kerjaan saya di proyek. Tapi karena jawaban saya sudah ditunggu jamaah, terpaksa saya harus cari-cari info ke sana sini, termasuk buka- buka internet.”

“Terus, Mas….”

Baca Juga:  Tahun Baru Hiriyah: Menuju Diri yang Lebih Berkualitas

“Saya akan membandingkan ketiga pasangan yang ada.”

“Membandingkan apanya?”

“Terutama rekam jejaknya, Pak Bei. Mereka kan sudah pernah jadi Gubernur, jadi Pimpinan DPR, bahkan ada yang masih menjabat sebagai Menteri dan Walikota. Akan saya simak satu-persatu apakah omongannya yang manis-manis saat kampanye sesuai dengan perilaku politiknya selama ini. Kalau omongannya sih semua pasti menawarkan yang terbaik untuk rakyat. Namanya juga kampanye. Jualan jamu, jualan kecap. Selama ini mereka sudah ngapain saja? Itu penting, Pak Bei.”

“Senang sekali bisa ngobrol dengan Mas Warno malam ini. Luar biasa. Semoga Mas Warno segera menemukan pilihan yang terbaik sehingga bisa menjawab pertanyaan jamaah.”

Njih, Pak Bei. Terima kasih sudah mau mendengarkan ‘uneg-uneg’ saya. Mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan.”

“Santai saja, Mas Warno. Slow wae.”

“Saya nyuwun pamit dulu, Pak Bei. Sudah larut malam, ‘sugeng ndalu’ (selamat malam), selamat istirahat.”

Pak Bei melepas Mas Warno meninggalkan halaman dengan sepeda motornya. Luar biasa. Imam masjid kampung yang menyadari tupoksinya sebagai pemandu jamaah, bukan hanya dalam sholat rawatib, tetapi juga dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Klaten, 11 Desember 2023
#ketualpumkmpdmklaten
#mpmppmuhammadiyah
#jamaahtanimuhammadiyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *