DZALIM DAN ADIL (Bagian Kedua)

Khazanah, Opini94 Dilihat

Margo Hutomo

Kedzaliman akan menjadikan pelakunya mendapat laknat dan keburukan, baik di dunia maupun di akhirat. Diantaranya sebagai berikut :

A. Pada Hari Kiamat akan Diqishos
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi saw. pernah bertanya, artinya :
Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”.
Para sahabat pun menjawab :
Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda”. Nabi saw. bersabda: ”Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala sholat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terdzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan, sementara belum selesai pembalasan tindak kedzalimannya, maka diambillah dosa-dosa orang yang terdzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka“.
(HR. Muslim : 2581).

Nabi saw. bersabda, artinya :
Siapa yang pernah berbuat aniaya (dzalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kedzalimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi, maka keburukan saudaranya yang dizhaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya”.
(HR. Al-Bukhari 2449)

Baca Juga:  LEMAHNYA KADERISASI ULAMA

B. Mendapatkan Laknat dari Allah
Allah Swt. berfirman, artinya :
(yaitu) hari yang tidak berguna bagi orang-orang dzalim permintaan maafnya dan bagi merekalah laknat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk”. (QS. Ghafir : 52).
Laknat dari Allah Swt. artinya dijauhkan dari rahmat Allah.

C. Mendapatkan Kegelapan di Hari Kiamat
Nabi saw. bersabda, artinya :
Kedzaliman adalah kegelapan pada hari kiamat”.
(HR. Al Bukhari 2447, Muslim 2578).

D. Terancam oleh Doa Orang yang Didzalimi
Doa orang yang terdzalimi dikabulkan oleh Allah, termasuk jika orang yang terdzalimi mendoakan keburukan bagi yang mendzaliminya.
Rasulullah saw. bersabda, artinya :
Dan berhati-hatilah terhadap doa orang yang terdzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.”
(HR. Bukhari 1496, Muslim 19).

E. Jauh dari Hidayah Allah
Allah Swt. berfirman, artinya :
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim
(QS. Al-Maidah : 51).

F. Dijauhkan dari Keberuntungan
Allah swt. berfirman, artinya :
Sesungguhnya orang-orang yang dzalim tidak akan mendapatkan keberuntungan”.
(QS. Al-An’am : 21).
Keberuntungan artinya mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat.

G. Kedzaliman adalah Penyebab Bencana dan Petaka
Allah Swt. berfirman, artinya :
Berapa banyaknya kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan dzalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi” (QS. Al Hajj : 45).

Baca Juga:  MAKNA RAHMAT

Jenis-Jenis Perbuatan Dzalim

Secara garis besar, kedzaliman terbagi dalam dua bagian, yaitu :

Pertama, kedzaliman yang terkait dengan hak Allah.
Kedzaliman yang terbesar terkait dengan hak Allah
adalah kesyirikan.

Suatu kali Nabi saw. ditanya sahabatnya : “Dosa apa yang paling besar?”.
Beliau menjawab : “Jika engkau menjadikan sesuatu sebagai sekutu bagi Allah Swt, padahal Allah yang menciptakanmu“.
(HR. Bukhari 4477, Muslim 86).
Tingkatan setelahnya adalah kedzaliman berupa dosa-dosa besar, kemudian dosa-dosa kecil.

Kedua, kedzaliman yang terkait dengan hak sesama hamba, baik menyangkut jiwanya, hartanya maupun kehormatannya.
Kedzaliman yang terkait dengan hak hamba, berporos pada tiga hal. Yaitu sabda Nabi saw. pada khotbah di haji Wada’. Beliau saw. bersabda, artinya :
Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian, semuanya haram atas sesama kalian. Sebagaimana haramnya hari ini, bulan ini, di tanah kalian ini“.
(HR. Bukhari 67, Muslim 1679).

Yang dimaksud kedzaliman terhadap jiwa seseorang adalah kedzaliman dalam darah. Yaitu seseorang berbuat melebihi batas kepada sesama muslim dengan menumpahkan darahnya, melukainya, atau semisalnya.

Yang dimaksud kedzaliman terhadap harta adalah seseorang berbuat melebihi batas terhadap sesama muslim dalam masalah harta. Bisa berupa enggan mengeluarkan kewajiban yang seharusnya ia tunaikan. Atau dengan melakukan hal yang haram dalam masalah harta. Atau berupa meninggalkan hal yang wajib ia lakukan. Atau berupa melakukan sesuatu yang diharamkan terhadap harta orang lain.

Baca Juga:  DAMPAK PEMIMPIN DZALIM

Adapun yang dimaksud kedzaliman terhadap kehormatan orang lain, mencakup berbuat melebihi batas terhadap sesama muslim dengan melakukan zina, liwath (sodomi), qodzaf, dan semisalnya.
Semua jenis kedzaliman ini haram hukumnya (Syarah Riyadus Shalihin, 2/485).

Dan barangsiapa yang melakukan dua jenis kedzaliman diatas, maka mereka telah melakukan kedzaliman kepada dirinya sendiri. Karena ia adalah makhluk yang diciptakan hanya untuk beribadah kepada-Nya. Dengan konsekuensi menaati segala perintah dan menjauhi segala laranganNya. Apabila mereka tidak dapat menempatkan dirinya pada tempat yang benar dan tepat sesuai kehendak-Nya, maka ia sah untuk diberi label dzalim.

Allah Swt. berfirman, artinya :
Diantara hamba Kami, ada yang mendzalimi dirinya sendiri dan diantara mereka ada yang pertengahan, dan diantara mereka ada (pula) yang berlomba berbuat kebaikan”.
(QS. Fathir : 32).

Kedzaliman yang Terbesar adalah Syirik

Dalam Islam, kedzaliman yang terbesar adalah apabila seorang hamba telah mempersembahkan ibadahnya kepada selain Allah. Atau menyertakan sesembahan kepada selain Allah, Dzat yang telah menciptakan dan memberi segala nikmat serta keselamatan pada saat hidupnya di dunia.

Allah Swt. berfirman, artinya :
Sesungguhnya kesyirikan adalah kedzaliman yang terbesar.”
(QS. Luqman : 13).

Ketika Nabi saw. ditanya :
Dosa apa yang paling besar?”.
Nabi saw. menjawab : “Engkau menjadikan sesuatu sebagai sekutu bagi Allah, padahal Allah yang menciptakanmu.

Wallahu A’lam
Batang, 6 Maret 2024

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *