BERKAH ZAMZAM, MULTAZAM UNTUK PERSYARIKATAN

Khazanah, Opini93 Dilihat

Imam Sutomo

Banyak cara untuk meluapkan rasa senang dalam hati menyambut pergantian Tahun Baru Islam 1446 Hijriah. Barisan “Multazam Kota Salatiga” (Mukosa) mengagendakan secara khusus berpartisipasi dalam karnaval bersama kelompok lainnya pada hari Ahad, 7 Juli 2024 yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Kota Salatiga. Penetapan tanggal 1 Muharram (UAH menyebut Al-Muharram) beda hari (Ahad dan Senin) nyaris sepi perdebatan, yang jelas Ahad lebih nyaman untuk bersukaria merayakan karnaval tahun baru.

Sejumlah kantong komunitas muslim menyelenggarakan acara sejenis untuk memperlihatkan syiar kegairahan umat menyambut tahun baru. Kemeriahan agenda kegiatan tahun baru Hijriah (هجرية) beda dalam banyak hal dengan kehebohan perayaan tahun baru Masehi (ميلادية).

Beda pendapat itu sah-sah saja, dibolehkan Undang-undang, tidak satu pun pasal larangan. Tindakan, aktivitas seseorang atau lembaga sosial keagamaan sangat terbuka dikritisi atau bahkan tidak direstui oleh kelompok lainnya.

Saat muslim berselera tinggi memeriahkan pergantian tahun Hijriah bisa pula muncul celetukan, “Mubazir, buang-buang waktu dan catat pula : tidak ada perayaan apa pun di zaman Rasulullah dan sahabat setianya.” Hampir pasti pendapat kontra tersebut mengendurkan semangat muslim yang memiliki antusiasme mensyiarkan IsIam, tiba-tiba dipatahkan dengan cibiran tidak punya dasar dalam tradisi zaman kenabian.

Perbedaan perspektif ini sebenarnya lebih mengarah pada makna “ajaran” dan “budaya” yang belum dan tidak pernah tuntas bahasannya. Satu sisi kelompok muslim berkreasi mengembangkan budaya, pada pihak lain pasang dalil, “Apa saja amalan yang tidak ada perintah Rasul, hukumnya tertolak.” Beda pijakan, beda sudut pandang, repotnya lagi (beda kepentingan), kesimpulan akhirnya bertolak belakang (boleh vs. mubazir) dalam memahami perayaan tahun baru.

Zamzam itu air putih jernih produk lokal Saudi Arabia yang dapat dikonsumsi jemaah secara cuma-cuma. Meski masih mentah, orang-orang meminum air Zamzam sepuasnya tanpa rasa khawatir berefek sakit perut atau penyakit lainnya. Air Zamzam mengalir deras setiap detik tidak berhenti, bisa jadi sampai tuntas daftar antre penduduk Indonesia berangkat haji masih mendapatkan bonus berliter-liter air Zamzam dibawa pulang.

Baca Juga:  ANTARA AYAHKU, LAMPU DAN TERIAKAN IBU DI PAGI ITU

Sejarah air Zamzam sudah diperkenalkan oleh guru agama dengan improvisasinya mengaitkan berbagai peristiwa di lingkungannya kepada anak-anak, sehingga sudah tertanam semenjak kecil nama Negara Arab dan perjuangan gigih seorang ibu berjalan tertatih-tatih untuk mencari air di gurun pasir. Para peziarah ketika merasakan panas terik matahari menerpa tubuh dapat terobati dahaganya dengan meminum air Zamzam.

Bagi perenung spiritual mencoba menelisik lebih dalam sejarah air Zamzam dan merenungkan asal muasalnya. Sekuat apa pun perempuan pasti akan pecah tangisnya membayangkan sulitnya Siti Hajar menghadapi penderitaan fisik dan kegundahan batinnya.

Eraslan (2015 : 345) cerpenis andal mengembangkan

imajinasi pengaduan Ibu Hajar ditinggal pergi suaminya (Nabi Ibrahim) mengadu kepada Tuhan, “Duhai, Allah! Tunjukkan jalan kepadaku. Demi kasih sayangmu terhadap bayi yang tak berdosa ini, perkenankan Engkau memberikan barang seteguk air kepada kami! Tunjukkanlah jalan kepada kami untuk mendapatkannya.” Kisah Zamzam adalah simbol pengorbanan Hajar yang kebingungan dalam kesendirian sambil mengurus bayinya.

Keajaiban alam dari ketukan tumit Ismail di pasir keluar air memancar deras. Dalam suasana kaget tak terperikan, Hajar terus mengeruk dan mengeruk pasir sembari mulutnya berucap : “Zamzam, Zamzam, Zamzam, Zamzam, Zamzam. Tenanglah wahai air, berkumpullah, janganlah engkau menghilang. Mohon berkumpullah, jangan sampai engkau mengering lagi” (Eraslan, 2015 : 380).

Mendengar kata “Zamzam” berkaitan dengan “oleh-oleh” orang pergi (naik) haji. Barang bawaan bukan hanya pakaian, tetapi pulang (bukan turun) haji minimal wajib membawa air Zamzam. Betapapun ketat aturan dan sanksi berat bagi pelanggar, ternyata para peziarah haji berusaha untuk tetap membawa air Zamzam melebihi jatah ke Tanah Air.

“Mari silaturahmi ke Pak Haji,” gurauan teman akrab yang suka minum air Zamzam dan kurma ajwa. Air Zamzam seukuran sloki selalu hadir menemani perjamuan peziarah yang baru pulang haji dan sungguh membawa keberkahan merekatkan batin anggota masyarakat. Budaya sajian minum air Zamzam (bukan kelapa muda) terbentuk melalui proses panjang dari generasi awal secara sinambung dan dipandang generasi pelanjut sebagai tradisi hasanah. Kebiasaan membawa “oleh-oleh” setelah bepergian luar kota mengimbas pada para hujjaj (orang-orang yang haji) memilih ciri khas dari Negara Arab berupa air Zamzam, kacang, kurma dari berbagai jenisnya.

Baca Juga:  Jangan Mendaur Ulang Kebodohan dalam Politik

Selain air Zamzam dan kurma, juga kata “Multazam” sangat akrab bagi peziarah ke tanah suci Makkah (Jawa : Mekah), sehingga untuk mengabadikannya dijadikan nama perkumpulan, nama biro dan lainnya yang terkait dengan perhajian. Ka’bah itu bangunan dari batu yang tidak seksi saat telanjang, tetapi setelah dirias dengan pakaian “kiswah” (selubung penutup ka’bah) tampak gagah dan punya magnet jutaan manusia larut dalam tangis ketika berdiri di hadapannya.

Kekhususan ka’bah bukan hanya secara fisik sebagai kiblat salat, tetapi juga terdapat sudut ruangan yang diyakini sebagai tempat terbaik untuk berdoa. Aboebakar (1965:43) menulis :

Bahagian jang terdapat antara Hadjar Aswad ini dengan pintu baru Ka’bah dinamakan Multazam, karena disanalah tempat orang-orang jang sudah thawaf itu bergantung mentjurahkan isi dadanja dan menghadapkan permohonan-permohonannja kepada Tuhan dalam do’a-do’a jang biasanja diutjapkan dengan air mata jang bertjutjuran.

Ketika peziarah selesai melakukan tawaf (mengelilingi) di seputar ka’bah berhenti sejenak untuk berdoa di Multazam yang diyakini sebagai tempat mustajab (doanya dikabulkan). Setidaknya, peziarah hatinya tersentuh, tertunduk dalam kekhusyukan berdoa dengan derai air mata tangis sesenggukan.

Multazam terpatri dalam hati peziarah Tanah Suci, sebagai area berdekat-dekat untuk memohon langsung kepada Tuhan, bukan hanya pertobatan dosa yang disengaja, tetapi minta tambahan nikmat duniawi. Kalimat sebelum prosesi pemberangkatan haji lazim dibisikkan, “Minta tolong ya, saya didoakan ketika di Multazam,” permohonan para tamu Allah yang masih sabar antre di bangku cadangan untuk menunggu panggilan.

Analog popularitas air Zamzam dan Multazam di hati masyarakat, biro dan perkumpulan yang berkaitan dengan perhajian juga memetik buah manisnya. Sejumlah Bimbingan Ibadah Haji & Umrah milik pribadi tumbuh subur di daerah padat penduduk muslim, karena secara nyata dapat meningkatkan tingkat kesejahteraan bagi pengelolanya. Suplemen air Zamzam, berkah Multazam berpengaruh positif terhadap kinerja biro, pengelola perhajian di bawah ormas atau milik perseorangan. Sekiranya tidak ada batasan kuota, hampir pasti biro, agen, Kelompok Bimbingan Ibadah Haji & Umrah (KBIHU) akan mengalami lonjakan peminat, kesibukan pengelola haji/umrah melebihi tugas harian pimpinan organisasi.

Baca Juga:  PILPRES 2024 DAN AMIEN RAIS SYNDROME

Arsitek Taj Mahal, Borobudur, Tembok China pasti tipe genius dan pembangunannya melibatkan ribuan tenaga kasar (lebih manusiawi boleh disebut karyawan berbadan kuat) dan penguasa superpower untuk keberlanjutan proyek raksasa. Jerih payah dan pengorbanan rakyat pada zamannya dapat dinikmati generasi ribuan tahun berikutnya sebagai sumber keuangan negara dan pemberdayaan tenaga kerja lokal.

Kisah air Zamzam, Multazam (lebih tepat Ka’bah) diyakini sebagai skenario Tuhan melalui tiga aktor yang teruji spirit pengorbanannya (Nabi Ibrahim, istri, dan putranya) kini terus memberikan keberlimpahan rezeki bukan hanya untuk penduduk Saudi Arabia, tetapi merembet ke semua negara, biro travel, kelompok bimbingan, petugas haji/umrah dll. Nama besar Muhammadiyah dapat menjadi payung KBIHU untuk meyakinkan animo masyarakat lebih nyaman dalam melaksanakan ibadah haji/umrah sesuai syariah dan merasa aman dari tipu-tipu agen ilegal.

Selamat datang para jemaah yang telah tiba di Tanah Air, selamat bertemu dengan keluarga tercinta, semoga tetap istikamah menjaga kerutinan ibadah yang sudah terjadwal rapi di Tanah Suci sebagai ikhtiar meningkatkan kualitas pribadi muslim berpredikat haji mabrur.

Kamis, 11 Juli 2024

*) Prof. Imam Sutomo, Guru Besar UIN Salatiga. Ketua PDM kota Salatiga 2010-2015, 2015-2022.

Bahan Bacaan

• Aboebakar. (1963). Sedjarah Ka’bah dan Manasik Hadji. Djakarta: Bulan Bintang.

• Eraslan, Sibel. (2015). Hajar : Rahasia Hati Sang Ratu Zamzam. Terj. Aminahyu Fitriani. Jakarta: Kaysa Media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *