LEMAHNYA KADERISASI ULAMA

Opini305 Dilihat
Gus Zuhron
Rasanya tidak perlu merasa rendah diri kalau harus mengakui bahwa produsen ulama dalam Muhammadiyah mengalami minus yang agak serius. Ulama dalam kontek ini dimaknai sebagai ‘orang yang memiliki keluasan ilmu di bidang fiqih, usul fiqih, tafsir al-Qur’an, paham ilmu Hadits,  bahasa Arab, Kalam, Sejarah, menguasai sumber-sumber primer tanpa meninggalkan corak pemikiran dan keberagamaan ala Muhammadiyah.
Diluar kontek itu Muhammadiyah cukup memanen banyak hal dan patut dibanggakan. Ribuan guru, doker, perawat, ahli farmasi, teknokrat, ekonom setiap tahun diproduksi oleh mesin pendidikan Muhammadiyah.
Muhammadiyah tampak jauh tertinggal bila dibandingkan dengan NU yang memiliki stok ulama berlimpah dan berdiaspora dalam banyak sektor kehidupan. Santri menjadi ikon yang sangat melekat pada kaum sarungan ini. Bahkan pasca Reformasi, NU berhasil mentransformasikan gerakan kultural sarungan yang semula dianggap ndeso, bodoh dan miskin menjadi gerakan yang mampu memerankan dan menjadi kunci pada wilayah-wilayah strategis keummatan dan kebangsaan.
Ada politisi santri, birokrat santri, pejabat santri, pengusaha santri, seniman santri, musisi santri, olah ragawan santri, budayawan santri dan tentu saja santri yang sangat piawai dalam meracik dinamika dakwah untuk pencerahan ummat. NU mempunyai ribuan pesantren sebagai lumbung kaderisasi dan ideologisasi.
Bagaimana dengan Muhammadiyah.? 
Tampaknya sampai detik ini Muhammadiyah belum mempunyai mesin produksi ulama yang efektif dan efisien. Untuk sementara yang dianggap ikonik hanyalah Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) yang jumlahnya sangat terbatas dan peminatnya cukup memprihatinkan.
Lahirnya pesantren baru (termasuk MBS) kebanyakan tidak bervisi sebagai kawah condrodimuko untuk menghasilkan para ulama handal, melainkan mengikuti tren pasar yang sedang booming. Pesantren yang menawarkan hafalan Al Qur’an berkembang bak jamur di musim penghujan.
Bukankah tren semacam ini (bukan berarti tidak baik dan mulia) sebagai bentuk kemunduran tradisi intelektual dalam Muhammadiyah. Bukan ‘gaya Muhammadiyah’ berlomba memperbanyak hafalan. Genuinitas gerakan ini dibangun oleh pendirinya dengan paradigma “sedikit hafalan, memperdalam pemahaman dan memperbanyak amal sholih” (baca sejarah pengajaran al-Ma’un dan al-Ashr).
Lebih miris lagi sebagian ulama muda yang muncul dalam Muhammadiyah, biasanya karena lulusan Timur Tengah yang basis keilmuan dan ideologinya kuat pada kelompok salaf. Mereka bergabung dengan Muhammadiyah karena dapat pekerjaan di Muhammadiyah atau secara kebetulan sama-sama tidak yasinan dan tahlilan. Tetapi paradigma berfikir dan jiwa gerakannya sama sekali bukan Muhammadiyah.
Oleh karenanya kita sering menjumpai para sarjana itu justru mengantitesa paham keagamaan Muhammadiyah yang selama ini sudah mainstream. Hal ini terkadang berimbas pada rusaknya tatanan jamaah yang sudah mapan.
Agaknya tidak berlebihan jika persoalan yang satu ini sudah harus menjadi prioritas utama. Produksi ulama yang mumpuni wajib menjadi agenda strategi gerakan agar marwah persyarikatan terus terjaga. Ulama yang menguasai segala lini keilmuan keagamaan, piawai dalam mendialogkan kepada ummat dan tidak kehilangan cita rasa keagamaan ala Muhammadiyah yang rasional, progresif dan spiritual.
Jumat Kliwon, 19 Januari 2024
*) Sekretaris MPKSDI PWM Jateng, Dosen Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA)
Baca Juga:  Membumikan Filsafat Di Generasi Muda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *