Buku : Bingkisan Istimewa Idul Fitri

Khazanah41 Dilihat

Penulis: Khafid Sirotudin

Fordem.id – Dua hari dan Sehari menjelang lebaran Idul Fitri tahun ini, saya menerima _”punjungan”_ (kado, hadiah) istimewa berupa 2 buku yang baru terbit.

Pertama dari Syifaul Arifin, penulis buku _”Muhammadiyah Kiri : Haji Misbach Yang Terlupakan dan Tersingkir”_. Kedua dari mas Taufan : _”Kiai Penggerak : Novel Biografi K.H. Ahmad Dahlan (1868-1923)”_ karangan Haidar Musyafa.

Kedua pengirim, mantan aktivis Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dengan mottonya yang terkenal : _”Nun walqalami wama yasthurun”_ (Nun.. demi pena dan apa yang ditulisnya).

Beliau berdua tahu kalau saya rada “kutu buku” : gemar membaca buku sejak dulu.

Meski saya sering menerima kiriman buku/kitab/jurnal, tetapi saya merasa tetap istimewa kiriman 2 IPMawan ini.

Pertama, _setiap buku diberi tandatangan basah penulis_. Kedua, _sebagai hadiah lebaran_. Ketiga, _sudah cukup lama saya tidak menerima bingkisan lebaran berupa buku_. Seingatku hampir 15 tahun.

Saya memiliki ratusan buku yang bertandatangan basah dari penulis.

Ada yang saya peroleh ketika mengikuti acara bedah buku, launching buku maupun saat berkunjung dan bertamu ke rumah penulisnya.

Tiga buku diantaranya, yaitu : _”Manusia Ide”_ karya Mochtar Riyadi, _”Islam Dalam Bingkai Ke-Indonesiaan dan Kemanusiaan”_ karya Buya Syafii Maarif, dan _”Think Big, Start Small, Move Fast”_ karya S.D. Darmono.

Meski saya bukan dosen, guru, ustadz atau ilmuwan namun membaca buku telah menjadi kebiasaan dan kesukaan saya.

Walaupun sekarang sudah ada E-Book atau E-Magazine, saya lebih merasa nyaman membaca buku/majalah cetak.

Bisa dibaca sambil nongki di warung kopi, atau duduk saat berada di moda transportasi darat, laut, udara.

Baca Juga:  KIKIR ADALAH WATAK MANUSIA

Bisa juga dinikmati sambil “leyeh-leyeh” (tiduran) tanpa energi batery dan listrik. Serta nir efek negatif radiasi frekuensi yang dapat mempengaruhi kesehatan otak kita.

Seperti tradisi intelektual di kalangan aktivis pelajar/mahasiswa jaman dulu. Kami biasa masuk ke toko buku ternama.

Bukan untuk membeli buku, tetapi untuk rekreasi sekedar melihat-lihat buku atau membaca sekilas buku yang baru terbit.

Jika dana _”celengan”_ (tabungan) sudah dirasa cukup, maka saya membeli buku di pasar Johar Semarang atau pasar Shopping Center Yogyakarta.

Ada diskon 20-25 persen dari harga buku normal. Saya juga tidak selalu membeli buku baru, malah sering membeli buku lama (bekas/second hand) dan bundel majalah (lama) yang sesuai preferensi pribadi.

Dari 5.000-an koleksi buku perpustakaan pribadi di rumah, saya kelompokkan menjadi beberapa kategori agar memudahkan jika suatu ketika membutuhkan referensi.

Ada Ekonomi, Biografi/Autobiografi, Teknologi, Psychology, Agama, Seni Budaya, Politik, Pertanian/Pangan, Humanisme dan Ketrampilan.

Sekarang tinggal 60-an persen yang masih menjadi koleksi pribadi. Sisanya sudah saya wakafkan ke beberapa sekolah, perpustakaan masjid, taman bacaan masyarakat dan teman yang membutuhkan.

Saya teringat pesan yang pernah dituturkan Gus Dur : _”hanya orang gila yang meminjamkan buku, tapi lebih gila lagi yang pinjam buku dikembalikan”_.

Memang faktanya seringkali buku kami dipinjam teman dan tidak dikembalikan. Maka daripada dipinjam tidak kembali dan sakit hati, lebih baik saya wakafkan.

Baca Juga:  TAKUT KEPADA ALLAH

Saya niati investasi ilmu yang bermanfaat buat modal masuk syurga kelak di akhirat.

Ketika kuliah, kami membuat _”perpustakaan buku keliling”_ beranggota 7 mahasiswa sesama penyuka membaca buku. Setiap 2 bulan sekali kami membeli satu buku baru ataupun bekas.

Syaratnya : judul buku yang dibeli tidak boleh sama. Setelah sepekan selesai membaca buku yang dibeli, maka pekan berikutnya buku kita tukar dan saling dipinjamkan.

Dalam 7-8 putaran, buku yang dibeli kembali kepada pemiliknya. Maknanya, kita cukup membeli 1 buku namun bisa membaca 7 buku, sekaligus merasa nyaman tidak takut kehilangan.

Jika buku sudah kembali ke pangkuan, maka setiap orang membeli lagi sebuah buku yang judulnya tidak boleh sama. _”Bukunya berkeliling”_ saling meminjamkan tanpa khawatir kehilangan.

Manfaat selama setahun, kita bisa membaca tuntas 42 buku dalam satu kelompok dengan beragam judul buku, sesuai minat baca setiap anggota.

Keuntungan lain kita bisa _”ngirit”_ (efisien) biaya beli bahan bacaan dan semakin beragam ilmu yang terserap.

Sebagaimana pepatah menyatakan : _”semakin banyak membaca buku, semakin sulit untuk ditipu”_. Apalagi jika si penipu, daya literasinya rendah. Pasti sudah ketahuan kedunguan dia sejak awal.

Budaya Memberi Hadiah Buku

“Alah bisa karena biasa”, demikian peribahasa yang biasa kita dengar. Membaca merupakan penanda budaya. Sedangkan buku/kitab adalah penanda peradaban.

Seseorang yang bisa menggambar atau menulis belum tentu bisa membaca teks.

Tetapi seseorang yang dapat membaca, sudah dipastikan bisa menggambar dan menulis. Contohnya keponakan saya berusia 3-4 tahun yang belajar di Play Group (Kelompok Bermain).

Baca Juga:  Makna Dua Kalimat Syahadat

Lain lagi dengan budaya menghafal. Ada tetangga, usia hampir 60 tahun buta membaca dan menulis huruf Hijaiyah (Arab).

Ajaibnya dia hafal diluar kepala saat melafadzkan surat Yasin, Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas.

Secara rutin setiap malam Jumat, dia mengikuti pengajian Yasinan dan Tahlilan di kampung selama puluhan tahun.

Daya baca seseorang atau komunitas menjadi penanda budaya literasi seseorang atau komunitas.

Semakin banyak bahan bacaan (buku/kitab/jurnal/dll) yang mampu dibaca dan diserap, maka semakin kaya literasi yang dimiliki seseorang.

Buya HAMKA adalah salah satu tokoh literasi yang saya kagumi. Meski pendidikan formal Sekolah Dasar tidak tamat, tetapi memiliki _”daya baca”_ teramat sangat banyak atas berbagai referensi buku/kitab bacaan.

Sehingga Buya HAMKA dikenal dan diakui sebagai seorang ulama tafsir, penulis produktif, intelektual, novelis dan sastrawan yang sangat layak dan mumpuni.

Tidak mengherankan jika pada akhirnya Buya Hamka mendapat gelar kehormatan Profesor Doktor Honoris kausa dari Universitas Al-Azhar Mesir. Bukan gelar _”humoris causa”_ apalagi _”hororis causa”_ yang sempat menjadi perbincangan hangat kalangan akademisi akhir-akhir ini.

Mungkinkah memberi bingkisan lebaran berupa buku atau kitab menjadi budaya baru di tengah masyarakat, khususnya untuk kalangan pendidik (guru, dosen, ustadz) ketimbang parcel Idul Fitri berupa makanan-minuman dan perlengkapan lain yang harganya lebih mahal, tetapi nilai (value) dan kemanfaatan (benefit) lebih rendah ?

Wallahua’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *