Hakekat Kebahagiaan

Khazanah63 Dilihat

Margo Hutomo

Fordem.id – Sebagaimana cerdik pandai sering menyampaikan bahwa watak dasar manusia cenderung mencintai keindahan, kesenangan, kebahagiaan dan semacamnya.

Karena dorongan hawa nafsu yang berada di dalam dada. Oleh karenanya setiap yang berbau enak pasti akan menjadi obyek buruan yang tidak bisa dipungkiri.

Harta, tahta dan wanita adalah tiga hal yang tidak akan pernah sepi dari para pengejarnya. Pesta, perayaan, senang-senang dan hura-hura adalah sesuatu yang selalu melekat pada diri manusia.

Sesuai fitrahnya, manusia bergerak karena dorongan syahwatnya. Ia berusaha mewujudkan apa yang menjadi keinginan dan memenuhi hasrat kesenangannya. Sesuatu yang diinginkan akan selalu tampak indah dalam pandangannya.

Perhatikan firman Allah, yang artinya : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingininya, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) (Qs. Âli ‘Imran [3]: 14).

Begitulah manusia diciptakan memiliki rasa suka. Suka wanita, suka anak, dan suka harta, serta bukan monopoli kalangan tertentu. Semua manusia punya rasa itu. Laki-laki atau perempuan, tua-muda, kaya-miskin, sehat-sakit.

Semua punya dan itulah fitrah. Oleh karenanya, ia tidaklah tercela jika memenuhi hasrat rasa sukanya itu. Yang tercela apabila ia kikir, tamak dan berlebihan dalam hasrat dan memperturutkan hawa nafsunya.

Nabi Muhammad Saw. bersabda :

عن أنس رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ثلاث مهلكات: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بنفْسِهِ.

Baca Juga:  ANTARA AYAHKU, LAMPU DAN TERIAKAN IBU DI PAGI ITU

Dari Anas ra. Rasulullah Saw. pernah bersabda : “Tiga hal yang mencelakakan (yaitu) sifat pelit yang diikuti, hawa nafsu yang dituruti dan rasa bangga terhadap diri sendiri”. (HR. Baihaqi)

Namun, manusia masih saja lebih senang memperturutkan hawa nafsunya. Demi kesenangan, apapun dilakukan. Dunia memang tampak menyenangkan dan selalu lekat dengan sesuatu berbau kesenangan. Wanita, harta, kekuasaan, perhiasan dan sebagainya. Sedari dulu pergulatan hidup manusia tidak lepas dari itu ke itu saja.

Gara-gara wanita, Al-Baghawi menyebutkan dalam kitab tafsirnya Ma’âlim at-Tanzîl. Bahwa Qabil, anak lelaki nabi Adam As. tega membunuh saudara kandungnya Habil, demi merebut istri cantik Iqlima.

Gara-gara kekuasaan, At-Thabari menuliskan dalam kitabnya Jâmi’ al-Bayân, bahwa Walid bin Mus’ab (si Fir’aun Mesir) mengeluarkan perintah pembunuhan massal bayi laki-laki karena ketakutan diantara bayi-bayi itu, kelak ada yang merebut kekuasaannya.

Gara-gara kekayaan, Ibnu Katsir mengabadikan dalam kitab Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm nya, bahwa Qarun— konglomerat zaman nabi Musa As.—karena harta kekayaan menjadi congkak dan sombong. Tatkala diingatkan agar tidak bertingkah laku demikian, tidak menjadikan dirinya insyaf. Justru menjadi makin congkak dan sombong. Lantas Allah Swt benamkan dirinya dan seluruh harta kekayaannya ke dalam perut bumi.

Begitu pula intrik politik yang terjadi di sepanjang sejarah manusia. Selalu berkutat diantara itu-itu saja : harta, tahta dan wanita. Perseteruan antar preman, tawuran massal antar kampung, perkelahian anak bangsa, serta peperangan antar negara, seringkali disebabkan oleh hal-hal tersebut.

Baca Juga:  Slilit Sang Kiai

Memangnya menyenangkan menjadi seorang pemenang ?. Lantas apa hasil yang dicapai dari sebuah kemenangan? Kesenangan, kebanggaan dan kehormatan diri. Mungkin itu yang mereka ucapkan. Tetapi adakah kesenangan yang telah diraih itu bernilai hakiki ? Tentu bukan. Tidak seberapa lama kesenangan itu akan hilang. Kesenangan itu bersifat semu, tidak hakiki.

Lihat dan pikirkan dengan nalar waras dan akal sehat. Bagaimana kesudahan Qabil setelah berhasil membunuh Habil ? Apa yang terjadi pada Fir’aun setelah melenyapkan semua bayi laki-laki ? Dan apa yang didapat Qarun setelah memamerkan kekayaannya ?

Bukan sebuah kesenangan hakiki dan hanya sesaat. Setelahnya mereka ditimpa kesusahan yang teramat, hasil dari apa yang telah diperbuat.

Kesenangan hakiki tempatnya ada di hati. Hati yang tersentuh cahaya ilahi.

Berapa banyak orang berharta namun tidak bahagia. Berapa sering dijumpai orang bertahta namun tidak tenang hidupnya. Dan tidak jarang terlihat orang yang beristri cantik tetapi hidupnya sengsara. Orang lain melihat dan menganggap hidupnya senang. Akan tetapi dirinya mendapati batin yang ‘berteriak’ tersiksa derapan rasa kehampaan berkepanjangan.

Sebaliknya, tidak sedikit orang yang hidupnya terlihat melarat, namun secara batin ia merasa nikmat dan bahagia. Tidak jarang terlihat orang beristri kurang cantik, tetapi ia bahagia dengan kekuarganya. Apa pasal ? Karena ia telah menemukan ketenangan di dalam hatinya.

“Kebahagiaan sejati” yang tidak bisa didapatkan dari banyaknya harta, tingginya tahta, dan kecantikan wanita. Itulah keimanan, ketaqwaan dan ketulusan hati menapaki hidup sesuai ketetapan ilahi Rabbi.

Baca Juga:  DZALIM DAN ADIL (Bagian Kedua)

Penyair Arab pernah berdendang :
“Tidak kutemukan kebahagiaan pada kumpulan harta, namun pada ketakwaan, kutemui makna bahagia.
Rasa takwa sebaik-baik bekal simpanan. Di sisi Tuhan pun ia mendapat tambahan”

Kebahagiaan hakiki hanya akan diperoleh dengan ketakwaan, keimanan dan amal salih. Bukan dengan tumpukan harta, kebesaran tahta, tingginya jabatan maupun kecantikan wanita. Sebab semua itu semu.

Celakalah orang yang menjual agamanya demi kebahagiaan semu. Menjual akhiratnya demi kepuasan hawa nafsu. Hanya kegundahan, kesedihan dan kesempitan yang akan didapatkan.

Allah Swt mengingatkan :
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan- Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit”
(Qs.Thâhâ [20]: 124).

Sekali lagi, kebahagiaan hakiki hanya didapatkan dengan keimanan. Sebab siapa yang merasakan nikmatnya iman, niscaya akan merasakan manisnya kebahagiaan yang hakiki. Sesuatu yang membuatnya merasa hidup dengan dada lapang, hati tenang, dan ketentraman batin.

Ibnu Taimiyah yang dinukil ad-Dimasyqi dalam Ar-Raddu al-Wâfir berkata :
“Sesungguhnya di dunia ini ada sebuah surga, siapa pun yang tidak masuk ke dalamnya, niscaya ia tidak akan masuk surga akhirat. Ada seseorang yang mengingatkanku tentang apa yang diperbuat musuh-musuh terhadapku. Maka aku katakan padanya : ‘Surga dan tamanku ada di-dada-ku, ia akan tetap selalu menyertaiku ke mana-pun aku pergi.”

Wallahu A’lam

Batang, 24 Juni 2021
*) Drs. Margo Hutomo, Lc. Pengasuh Majlis Muthala’ah Al-Quran (MMA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *