BELAJAR SABAR

Khazanah, Opini232 Dilihat

Thontowi Jauhari

“Kalau mau ke toilet, di masjid sana ada pak”, demikian kata among tamu pelepasan jamaah haji oleh Bupati Boyolali di Pendopo Alit, 5 juni 2024, sekitar jam 07.45 WIB.

Perkataan among tamu perempuan berbaju kebaya merah itu, menjawab pertanyaan saya, ketika saya mau buang air kecil :
“Saya mau ke toilet”, tanyaku pada para among tamu.

Saya sama sekali tidak menduga, jawaban among tamu pelepasan para jamaah haji Kabupaten Boyolali tersebut.

Sebagai salah satu Karom (Ketua Rombongan), kami diundang secara resmi oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Boyolali. Berarti kami ini menjadi tamu. Saya paham persis, di lingkungan Pendopo Alit, sebagai semacam tempat pertemuan, pasti ada fasilitas toilet.

Kok saya tidak diarahkan ke toilet di dekat Pendopo Alit, sebagai wujud memperlakukan saya sebagai tamu ?

Seketika itu, saya langsung sadar. Ini adalah ujian pertama saya untuk sabar, menghadapi kejadian aneh-aneh untuk beribadah haji saat ini.

Baca Juga:  Pendidikan Indonesia: Jembatan Emas Yang Rapuh

Saya belajar sabar dan menerima saran untuk ke toilet masjid, tanpa bertanya toilet di sekitar Pendopo Alit.

Saya kemudian bergegas menuju toilet masjid. Dalam perjalanan, saya membayangkan, tentu toilet masjid antri digunakan orang, mengingat saat itu banyak keluarga jamaah haji yang mengantar.

Juga berfikir harus membawa sepatu sandal ke toilet. Khawatir hilang, lalu membayangkan kalau itu terjadi. Sepatu sandal hilang saat beberapa menit lagi jamaah haji diberangkatkan.

Alhamdulillah, di pintu keluar dari halaman pendopo alit, bertemu pak Junaidi, guru MAN Boyolali. Pak Jun (demikian saya biasa memanggilnya) adalah adik kelasku, saat menjadi siswa PGA (Pendidikan Guru Agama).

Pak Jun juga pernah menjabat Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Boyolali, saat saya masih aktif di Pemuda Muhammadiyah tingkat kecamatan.

Meskipun sekarang pak Jun sudah tidak aktif di kegiatan Muhammadiyah, saya tahu persis Pak Jun ini aktif sebagai kader umat, yang mengurusi umat dalam pengertian yang luas.
Karena itu Pak Jun juga didapuk menjadi pembaca doa, saat pelepasan calon jamaah haji.

Baca Juga:  Strategi Dakwah Kultural

Setelah berjabat tangan, dan mendoakan saya dengan segala doa kebaikan, pak Jun bertanya :
“Mau kemana ini ?”
“Mau ke toilet di masjid”, jawabku datar.

“Lho kok ke toilet masjid, disini ada toilet. Gak perlu ke masjid”.
Sontak, saya menjawab, oleh ibu yang among tamu itu, saya diarahkan agar buang air kecil di toilet masjid, tidak toilet di lingkungan Pendopo Alit.

“Ayo saya antar ke toilet di samping Pendopo Alit” kata pak Jun.
Akhirnya, saya dan pak Jun berjalan bersama menuju toilet yang dituju.
“Dia itu tidak tahu pak Thontowi itu siapa”, tutur pak Jun, yang kini juga aktif sebagai pendakwah itu.

Alhamdulillah, setidaknya, diawal proses haji ini saya bisa lulus belajar sabar. Saya sebenarnya tidak masalah untuk buang air kecil di toilet masjid. Semakin jauh saya menuju toilet, saya menganggap banyak kebaikan untuk saya.

Baca Juga:  Titik Nadir Demokrasi Tentang Kafir Politik

Sekaligus juga belajar, saat di Armuzna (Arofah, Muzdalifah dan Minna), untuk buang hajat ke toilet, butuh banyak kesabaran.

Prasangka positif saya, ibu berbaju merah itu sedang menguji kualitas kesabaranku. Marah enggak jika diberlakukan seperti itu.

Akhirnya, terima kasih pada ibu among tamu berbaju merah, yang telah menguji kesabaranku dan terima kasih pak Jun, yang telah pasang badan untukku, bahwa saat saya pipis di toilet di sekitar Pendopo Alit itu tidak akan menimbulkan murka para among tamu tersebut.

Terima kasih semuanya, semoga Allah membalas kebaikan kalian.

Dalam Pesawat Menuju Tanah Suci, 6 Juni 2024.

*) Drs. Thontowi Jauhari, S.H., M.Si. Wakil Direktur RS PKU ‘Aisyiyah Boyolali, Advokat, Mantan DPRD Prov. Jateng.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *