GAGAL MENJADI KEPALA SEKOLAH

Opini133 Dilihat
Gus Zuhron
Ini adalah kisah nyata tentang sepak terjang masa lalu seorang super hero persyarikatan. Lebih tepatnya kejadian sekitar 30 tahun yang lampau. Orang itu bernama Muhammad Arifuddi. Sosok aktivis dakwah, penggerak organisasi, pendidik ulung, piawai dalam olah raga, jago ilmu silat, kompas bagi kehidupan masyarakat, mempunyai jiwa filantropi yang kuat, pembelajar sejati, ahli ibadah dan kepala keluarga yang dicintai.
Bagi masyarakat, manusia satu ini adalah figur teladan yang pantas dicontoh. Cara beragamanya adalah keseimbangan antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan. Sebagai manusia biasa tentu tetap banyak kekurangan dan kelemahan. Namun dari caranya menyempurnakan hidup tampak bahwa usaha untuk melengkapi kekurangan itu terus diupayakan, agar tampil sebagai pribadi yang paripurna khususnya di hadapan Tuhan.
Salah satu yang menonjol dari aktivitasnya adalah sebagian besar waktu kehidupannya diabdikan untuk kepentingan ummat. Perilaku ini terus dilakukan hingga ajal menjemputnya. Hari-hari terakhirnya diisi dengan mengajarkan hafalan al-Qur’an kepada anak-anak di serambi masjid.
Suatu ketika, segala aktivitas mulianya itu mulai terendus oleh para penggerak Muhammadiyah di Kota Metro Lampung. Sebuah skenario disiapkan untuk memikat pemuda ini agar mau mengabdikan diri sebagai Kepala Sekolah di salah satu AUM pendidikan yang dimiliki Muhammadiyah. Aktivitasnya sebagai seorang ASN dengan rekam jejak yang lengkap sebagai aktivis dakwah, dirasa paket komplit yang cocok untuk membesarkan sekolah Muhammadiyah.
Proses seleksi berlangsung dan hasil akhirnya dinyatakan tidak memenuhi syarat sebagai Kepala Sekolah. Dengan langkah ‘enteng‘ dan senyum yang ‘sumringah‘, beliau mengucapkan alhamdulillah. Kabar gagalnya aktivis par excellent ini terdengar sampai di telinga para tokoh utama saat itu. Mereka mulai menyelidiki dan mempertanyakan, bagaimana mungkin figur istimewa itu bisa gagal.
Usut punya usut ternyata para pengujinya adalah orang-orang yang tidak mengenal manusia yang satu ini. Mereka berkesimpulan Pak Arif adalah orang kampung, miskin pengalaman dan tidak paham Muhammadiyah.
Mendengar penjelasan itu, para tokoh utama sontak marah pada jajaran penguji. Mereka menyampaikan apa dan siapa orang yang barusan ditolak itu. Wajah malu dan menyesal tampak dari para penguji. Mereka tidak sempat melihat rekam jejak orang yang dihadapinya dan buru-buru mengambil kesimpulan.
Nasi sudah tak layak disebut nasi, tidak mungkin proses itu akan kembali diulang. Beragam cara di kemudian hari diupayakan untuk membujuk sang penggerak agar bersedia menempati posisi yang dibutuhkan sudah tidak berhasil. Jawabannya tetap konsisten : “biarlah saya berkhidmat di pedesaan dengan segala dinamikanya”.
Perjuangan terus berlanjut dan karirnya semakin melambung. Menjadi Kepala Sekolah milik negara sampai berganti 3 sekolah. Menjadi dosen di sebuah Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan konsisten dalam langkah-langkah mencerahkan ummat.
Upaya menempa kualitas diri dilakukan dengan cara mengambil program Doktor. Meskipun tidak mampu diselesaikan karena kendala sakit, setidaknya sudah berupaya sekuat tenaga mengamalkan pesan Nabi saw bahwa menuntut ilmu itu sepanjang hayat.
Akhir perjalanan kehidupannya dipungkasi dengan cara menggembirakan dakwah ummat, berinteraksi dengan al-Qur’an dan memakmurkan Masjid. Dulu saat masih muda beberapa kali menyampaikan pesan “aku ingin usianya sama dengan Rasulullah, seandainya kurang dari Nabi setidaknya sedikit saja”. Pesan itu semacam menjadi do’a yang diijabah oleh Tuhan. Dipanggil keharibaan Allah pada Jumat malam pukul 20.00 WIB dalam usia 63 tahun kurang 2 bulan.
Sungguh indah perjalanan kehidupanmu.
Baca Juga:  ARTI IHSAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *