Diaspora Kader Politik Perempuan

Berita, Opini58 Dilihat

Khafid Sirotudin

Fordem.id – Seratusan perempuan mengikuti Seminar Politik Perempuan di Aula SMK Muhammadiyah 1 Kota Tegal, Rabu 2 Agustus 2023. Peserta terdiri dari guru TK ABA (IGABA), utusan Nasyiatul Aisyiyah (NA) dari 4 kecamatan, dan Siswi SMA/SMK Muhammadiyah (Pemilih Pemula).

Saya dihubungi sebulan lalu oleh Pimpinan Daerah NA Kota Tegal untuk berbagi ilmu dan pengalaman terkait politik kebangsaan. Ikut mendampingi kami sebagai nara sumber, mbak Elvi Yuniarni, SH. MH. Ketua KPU Kota Tegal 2 periode (2013-2023).

Kegiatan pendidikan politik bagi perempuan persyarikatan telah kami ikuti dan laksanakan berpuluh-puluh kali di berbagai daerah se Jawa Tengah, dalam rentang waktu 7 tahun terakhir. Terutama ketika diamanati sebagai Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PWM Jateng periode 2015-2022.

Menurut kami, forum pelatihan/training dan seminar politik bagi perempuan, khususnya bagi pemilih pertama/pemula dan emak-emak/mamah muda (mahmud) sangat diperlukan. Tidak sekedar memberikan wawasan berbangsa dan bernegara, tetapi memberi bekal ilmu pengetahuan dan ketrampilan “melek politik” sehingga muncul kesadaran yang tinggi tentang hak dan kewajiban sebagai warga negara.

Selama ini afirmasi perempuan sebesar 30 persen yang dijalankan partai politik dan lembaga politik lainnya, lebih sekedar formalitas memenuhi Undang-Undang dan “kepura-puraan politik” semata. Kita bisa saksikan fakta pemenuhan kuota 30% perempuan pada legislatif (DPR/DPD/DPRD), eksekutif/pejabat/birokrat pemerintahan (departemen/dinas/OPD), maupun penyelenggara pemilu (KPU/Bawaslu/DKPP).

Baca Juga:  Muhammadiyah Dukung Kadernya Dakwah Lewat Jalur Politik

Afirmasi Perempuan

Keberpihakan (afirmasi) Muhammadiyah pada perempuan ditunjukkan sejak mendirikan Ortom Aisyiyah, 19 Mei 1917. Pada tahun 1919 mendirikan “Siswa Praja Wanita” di Yogyakarta, lalu berganti nama menjadi Nasyiatul Aisyiyah (NA) pada 16 Mei 1931/28 Dzulhijjah 1349 H. Sumodirjo adalah tokoh Muhammadiyah pencetus pertama pembentukan suatu perkumpulan yang seluruh anggotanya perempuan.

Ijinkan kami menyatakan bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi Islam yang pertama kali melahirkan organisasi perempuan. Tidak saja di Indonesia, tapi sedunia. Sehingga tidak mengherankan jika salah seorang putri Muhammadiyah, Ibu Fatmawati, menjadi penjahit Bendera Pusaka Merah Putih. Salah satu Lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Nyi Walidah Ahmad Dahlan dan Ibu Fatmawati adalah 2 kader perempuan persyarikatan yang mendapatkan gelar Pahlawan.

Kiprah Aisyiyah ikut mengambil peran aktif dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya bagi kaum perempuan, terbukti melewati zaman. Wujudnya berupa puluhan ribu Taman Kanak-kanak Aisyiyah Bustanul Athfal (TK-ABA), Kelompok Bermain (KB) yang tersebar di seluruh Indonesia. Juga Sekolah Dasar dan Menengah serta Perguruan Tinggi Aisyiyah (PTA) : Akademi Perawat/Kebidanan, Stikes dan Universitas Aisyiyah.

Aksi nyata Aisyiyah pada bidang sosial dan kesehatan diwujudkan dengan berdirinya ribuan Panti Asuhan Yatim Piatu Aisyiyah (PAYA), Panti Jompo dan puluhan Rumah Bersalin/Poliklinik/Rumah Sakit Aisyiyah. Sebuah monumen amal shalih yang bertahan dan berkembang hingga sekarang.

Baca Juga:  Warga Muhammadiyah Wajib Berpolitik, tapi....

Kita tentu masih ingat bagaimana “fatwa haram” pemimpin perempuan di ranah publik disampaikan oleh sebagian kecil kalangan mewarnai kontestasi demokrasi (Pilpres, Pilkada, Pilkades) pada fase awal pasca reformasi (1999-2004). Namun di fase berikutnya (2005-2023), kita menyaksikan ratusan muslimah menjadi Kepala Daerah–Gubernur/Wakil Gubernur, Walikota/Wakil Walikota, Bupati/Wakil Bupati– di Indonesia.

Bahkan Ibu Hj. Megawati Soekarno Putri (salah satu putri Ibu Fatmawati-Soekarno), menjadi Presiden Perempuan Pertama di Indonesia. Jauh lebih berkemajuan ketimbang negara demokrasi Amerika Serikat yang hingga sekarang belum pernah memiliki seorang Presiden Perempuan. Saya yakin “sawab” ibunda Fatmawati menetes ke jiwa beliau. Dengan kalimat lain : “Di dalam jiwa Presiden Megawati Soekarno Putri mengalir darah Aisyiyah”.

Menumbuhkan Kader Politik Perempuan

Berbagai pertanyaan muncul pada sessi tanya jawab Seminar Politik Perempuan di kota Tegal. Antara lain :
1. “Suami saya TNI, apakah saya boleh menjadi penyelenggara pemilu?”
2. “Sebagai guru PPPK, apakah saya boleh menjadi KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemilu Setempat)?”
3. “Bagaimana mensikapi ‘serangan fajar’ (money politic) pada Pileg 2024?”.
4. “Seberapa penting peran perempuan atau mengapa perempuan harus terjun dalam politik?”.
Dan puluhan pertanyaan lain seputar peran serta perempuan dalam politik, demokrasi dan kepemiluan.

Kami (saya dan mbak Elvi) selaku nara sumber sangat bersemangat menjawab berbagai pertanyaan dari peserta yang semuanya perempuan. Saya menjadi satu-satunya orang paling ganteng di forum seminar itu.
Saya kasih hadiah uang @ “go- mban” (Rp 50-ribu) untuk Siswi SMAM dan SMKM yang menjadi Ketua Osis dan Ketua PR IPM di sekolahnya. Begitu juga mbak Elvi memberi hadiah sama untuk 10 peserta yang berani acungkan tangan dan menjawab pertanyaan dengan benar.

Baca Juga:  GENERASI TELOLET

Seminar, pelatihan, workshop, forum diskusi dan sebagainya hanyalah satu ihtiar jangka pendek dalam menyiapkan kader perempuan di bidang politik kebangsaan. Dibutuhkan langkah nyata lain berupa proses pengkaderan yang berjangka menengah dan panjang. Agar diaspora kader perempuan Aisyiyah/NA yang berkhidmat di berbagai bidang kebangsaan dan kenegaraan semakin banyak dilahirkan. Kita rindu kehadiran ibu “Fatmawati-Fatmawati” dan “Walidah-Walidah” baru di lingkungan persyarikatan.

Satu lagi, butuh komitmen dari bapak-bapak Muhammadiyah untuk “mengalah” (merelakan diri) kepada “ibu-ibu Aisyiyah” dan kader muda perempuan (NA) untuk menduduki berbagai posisi strategis di AUM (Amal Usaha Muhammadiyah), MLB (Majelis, Lembaga, Biro) serta mengisi struktur Pimpinan Muhammadiyah (13 Besar hasil Musyawarah) pada semua level (PP/PW/PD/PCM/PCIM).

Semoga pada Muktamar Muhammadiyah ke-49 dan Muswil/Musda/Muscab mendatang mulai “pecah telur” dengan hadirnya 1-2 orang Kader Aisyiyah/Nasyiatul Aisyiyah sebagai 13 Besar Pimpinan Muhammadiyah di semua level.
Wallahua’lam

KA Kaligung, 2 Agustus 2023

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *