Oleh: Gus Zuhron
Fordem.id – Belum hilang dalam ingatan kita, peristiwa tahun 2010 di Tunisia. Seorang pedagang kaki lima bernama Mohamed Bouazizi membakar dirinya sebagai protes terhadap tindakan polisi dan korupsi pemerintah. Pasca peristiwa itu, sebuah gelombang gerakan besar terjadi dan mengubah wajah negara-negara arab dalam tempo yang cukup singkat. Media sosial berperan penting dalam menviralkan tindakan Bouazizi. Solidaritas kemarahan terbangun dari gerakan rakyat. Perlawanan dilakukan atas pemerintahan korup dan kesewenang-wenangan aparat.
Hari ini, Indonesia berpotensi mengalami peristiwa serupa. Kematian seorang driver ojol bernama Affan Kurniawan yang dilindas polisi memicu gelombang protes masal diberbagai daerah. Kasus kematian ojol bukanlah kasus tunggal yang menjadikan amuk masa terus menggelinding. Sebelumnya sudah ada peristiwa yang menyentak nurani publik. Kenaikan tunjangan anggota DPR di tengah situasi ekonomi melambat, daya beli turun, jurang kemiskinan semakin melebar. Kebijakan itu dinilai sebagai tindakan nir adab. Apalagi viral di media para anggota dewan berjoget gembira. Tindakan itu jelas tidak etis dan tidak mencerminkan sikap empati.
Ada yang berbeda dengan gerakan masa kali ini. Solidaritas ojol menjadi motor utama aksi demonstrasi di berbagai daerah. Dalam sudut pandang sejarah pergerakan Indonesia, aksi para driver ojol adalah bentuk baru dari gerakan civil society. Yang lazim terjadi gerakan masyarakat lebih banyak diinisiasi oleh mahasiswa atau kaum buruh. Sebut saja gerakan tahun 66, peristiwa malari tahun 74, reformasi 98, gerakan mahasiswa tahun 2002 saat pelengseran Gusdur, atau gerakan masa era Jokowi saat menolak Ombi Buslaw dan refisi undang-undang KPK. Hampir semua digawangi oleh aktor-aktor kampus.
Ojol harus dilihat sebagai entitas masyarakat yang perlu mendapat perhatian lebih. Jumlahnya tidak sedikit. Laman databoks.katadata menyebutkan bahwa jumlah ojol d tahun 2020 sebanyak 4 juta orang. Bahkan Govermen Relations Sepcialist Maxim Indonesia menyebutkan jumlah ojol di tahun 2025 mencapai angka 7 juta anggota. Ini jelas jumlah yang tidak sedikit. Mereka kehidupan ekonominya tidak bergantung pada negara. Justru pajak yang mereka bayarkan menyumbang secara kongkrit pada pendapatan negara.
Jumlah yang besar itu ternyata mampu dimobilisasi secara efektif. Media online menjadikan segala bentuk konsolidasi menjadi lebih mudah. Apalagi yang menjadi obyek utama perlawanan adalah polisi. Semakin memantik berbagai pihak untuk terlibat dalam aksi demostrasi. Dosa kepolisian yang secara telanjang dapat disaksikan oleh masyarakat seperti pelanggaran terhadap kode etik dan disiplin yang diwajibkan bagi anggota Polri, melakukan korupsi, kolusi, nepotisme, penyalahgunaan kekuasaan, penganiayaan, kelalaian dalam bertugas, dan perbuatan yang bertentangan dengan kesusilaan atau melanggar etika kenegaraan. Bahkan lebih jauh kasus-kasus dilapangan yang dilakukan oleh para oknum kepolisan nyata di rasakan. Praktik suap saat membuat SIM, pemalakan pada korban kecelakaan, razia SIM yang berujung transaksi, menjadi beking ini dan itu adalah rahasia umum yang menjadikan masyarakat semakin muak.
Maka tidak mengherankan manakala solidaritas ojol atas perilaku represif aparat disambut masif oleh entitas masyarakat lain. Pelajar, mahasiswa, kaum buruh dan sebagainya bergabung untuk menunjukkan sikap perlawanan terhadap aparat. Ojol seperti ideologi baru gerakan masa yang mampu menjadi simbol pemersatu. Jika fenomena gerakan masya ini tidak dapat diantisipasi oleh negara, tidak menutup kemungkinan reformasi 98 akan terulang.
Presiden harus mulai mendisiplinkan anak buah, aparat dan wakil rakyatnya untuk menjaga etika publik dan memperbaiki cara mereka berkomunikasi dengan rakyat. Kebijakan negara dipastikan mampu melindungi, menjaga dan menggaransi kepentingan riel masyarakat. Jangan hanya indah dalam pidato dan apik dalam dokumentasi laporan. Tapi bukti nyata yang dirasakan oleh masyarakat sekedar sayup-sayup terasa. Tidak ada yang menginginkan nasib Indonesia sebagaimana peristiwa Arab Spring. Kalau itu sampai terjadi..!………embuhlah aku ra melu-melu…
J.CO, Sabtu, 30 Agustus 2025 Pukul 16.27 WIB ditemani segelas Avocado…….