Manusia Hima

Oleh: Gus Zuhron

Fordem.id – Satu lagi pejuang persyarikatan harus pergi mendahului. Tuhan telah memutus dengan kuasanya, sebuah titah untuk mencukupkan garis kehidupan. Seberapapun besaran cinta yang kita tambatkan tidak akan mampu membendung arus takdir yang telah ditetapkan untuk mengalir. Sebagaimana nasihat Khalifah Ummar bin Khatab “tidak ada takdir buruk, semua takdir itu baik, seandainya tampak buruk, maka sungguh tujuan dibalik takdir itu adalah kebaikan.

Kami biasa memanggilnya Pak Hima. Terlahir dengan nama Hima Sugiarto dan nama itu tidak pernah terganti sampai ajal menjemputnya. Dalam bahasa Sansekerta kata Hima bermakna salju. Mungkin kedua orang tuanya menginginkan anaknya ini selalu dalam keadaan suci dan menyejukkan. Tidak hanya suci bahkan mampu mensucikan. Dalam makna yang lebih esensial adalah keteladanan yang mampu menghadirkan pencerahan bagi orang-orang yang ada disekitarnya.

Pak Hima dalam kontek Pendidikan adalah sosok yang paripurna. Pejuang, konseptor ulung, eksekutor handal, kemampuan berjejaring yang luas, jiwa pendidik yang excellent dan aktivis persyarikatan. Satu paket komplit yang tidak semua orang memiliki. SMP PLUS dan SMA Taruna Muhammadiyah adalah bukti kongkrit yang bisa dijadikan saksi sejarah. Kemampuan semacam itu pasti diperoleh dari proses perjalanan panjang dan tempaan yang tidak biasa-biasa saja. Pergulatan sejarah kehidupan yang dialami membentuk karakter yang tangguh dan memikat. Ada banyak nama Hima bertebaran dimuka bumi, tetapi yang sama dengan Hima Sugiarto rasanya tidak ada. Manusia limited edition yang diciptakan Tuhan dengan tugas khusus dan kemampuan khusus.

Perjumpaan dengan Pak Hima lebih banyak di forum-forum ilmiah, tetapi sesekali waktu menyempatkan ngobrol santai soal persyarikatan. Komitmen kaderisasi dan membesarkan persyarikatan tampak dari pikiran-pikiran yang bersliweran di ruang publik. Semangatnya terus menyala dan menjadi energi gerak bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Jika baru pertama kali bertemu, orang tidak akan menyangka bahwa Pak Hima adalah sosok dengan segudang inspirasi. Penampilannya biasa saja, kehidupannya sederhana dan lagak lakunya sebagaimana lazimnya orang-orang awam.

Cerita kehidupan Pak Hima terasa mulai berbeda khususnya pasca Covid. Tubuhnya yang kokoh mulai lelah menghadapi berbagai ujian sakit yang berkepanjangan. Keluar masuk rumah sakit seperti episode kejar tayang yang sering dilakoni. Bahkan pada saat ada acara Dialog Ideopolitor Ramadhan yang kebetulan saat itu bertempat di Gunung Pring, beliau masih menyempatkan diri menyambut para tamu meskipun kondisinya sudah tidak lagi prima. Komplikasi sakit yang merangsek tubuhnya menjadikan pejuang yang satu ini perlahan tapi pasti surut dari dinamika persyarikatan. Namun pikiran-pikirannya terus tumbuh dan hidup.

Bakda isya, Senin 18 Agustus 2025 menjadi ujung dari persinggahan kehidupan dunia. Usia 57 tahun adalah batas terbaik yang telah dituliskan langit. Semua orang bersaksi akan atsar kebaikan yang telah ditorehkan. Doa-doa melambung menggetarkan ‘ars. Doa yang terucap sebagai tanda kecintaan saudara sesama Iman. Hasan Al Basri pernah memberikan nasihat, persaudaraan yang diikat di atas pertalian aqidah jauh lebih mulia dibandingkan persaudaraan yang diikat di atas pertalian darah.

Berjibunnya para pentakziyah dan tangis di antara mereka sudah cukup membuktikan siapa “Manusia Hima”. Jenis manusia bertubuh kecil dengan jiwa dan pikiran besar. Karyamu terlalu besar untuk ditiru, tetapi para pejuang yang hadir dalam peristirahatanmu yang terakhir tidak akan membiarkan warisanmu membisu dan lapuk oleh lintasan waktu. Untuk sementara biarlah kesedihan menyelimuti, tapi diam-diam hati kami tersenyum merasakan betapa perjalananmu menuju keabadian dibekali dengan jariyah penerang yang terus mengalir tanpa henti. Selamat jalan Pak Hima, salam cinta dari sahabatmu yang “agak mengenalmu”.

Rumah Sanggrahan, Selasa, 20 Agustus 2025 pukul 20.50 WIB.