SUMBANGAN DANA SOSIAL BERHADIAH (Bagian 1)

Sastra Politik361 Dilihat

Cerpen oleh: Dulrokhim

Fordem.id – Di ufuk barat matahari jingga keemasan. Awan gemawan menggerombol bergerak lambat. Pucuk-pucuknya memancar cemerlang terkena pantulan sinar matahari jingga. Ada juga siluet sinar yang menerobos awan, garis-garisnya halus seperti sutra mengawang. Matahari mulai meredup, tubuhnya setengah tenggelam.

Keramaian jalan yang selalu pikuk mulai lengang. Ada beberapa kendaraan yang berjalan lambat. Satu uda orang berjalan tergesa. Kukayuh sepedaku menuju rumahku, pulang dengan membawa sisa kelelahan pikiran karena terkuras habis untuk mengajar para siswa di sebuah SMK. Minggu-minggu terakhir ini memang sungguh melelahkan bagiku. Belum lagi tugas-tugas membuat soal test catur wulan.

Baca Juga:  MBAH YAE MINTA DICOBLOSKAN

Tak lama sampailah aku di mulut gang perkampunganku. Di gardu ronda kulihat beberapa orang sedang asyik ngobrol. Ada yang khusyuk dengan kertas Ciam Sie” dan ballpoint, serta koran. Serius sekali. Ada juga yang hanya merokok sambil melamun. Salah seorang dari mereka melihatku, wajahnya seketika memancarkan keceriaan.

“Sanib….sini!” panggil Kaswan kepadaku.
“Nib, wah ini dia…”
“Sanib, kau datang?!”
Aku langsung dikerubuti wajah-wajah penuh cita harap.

“Nib…, tolonglah kami. Kami sudah mencoba memecahkan kalimat ini, tapi kok ya sulit. Barangkali kau bisa menenbaknya!” pinta Kaswan dengan penuh harap.
“Iya Nib, tolonglah…..”
“Kamu kan guru bahasa dan sastra, pasti bisa menebaknya”.
Aku mendesah nafas panjang. Kutatap wajah mereka satu-satu. Wajah polos penuh keluguan, rakyat kecil dengan pendidikan minim.

Baca Juga:  SUMBANGAN DANA SOSIAL BERHADIAH (Bagian 3)

“Ayolah Nib!”
Tanganku diseret-seret, diajak ikut duduk bersama. Aku menggeleng pelan, maaf, aku….”.
“Alah cuma sebentar kok Nib”
“Iya Nib, sebentar saja!”
“Kamu harus tolong Nib”.
Sepedaku diraihnya dan disandarkan di pojok gardu ronda. Desakan dan ajakan gandengan tangan menyeretku ke gardu ronda itu. Seseorang menyodorkan kertas Ciam Sie kepadaku.

Di situ kutemui kalimat-kalimat teka-teki picisan. Teka-teki yang dibuat sedemikian rupa sehingga alternatif jawaban bisa bermacam-macam. Apabila nomor buntutan sudah keluar, maka si pembuat teka-teki Ciam Sie akan dengan mudah merangkai jawabannya di terbitan Ciam Sie berikutnya. Maka akupun dengan mudah dapat menjawab pertanyaan teka-teki itu dengan jawaban-jawaban diantara seribu jawaban yang ada. Jawaban sekenanya, alias ngawur!. Mereka puas. Di wajah mereka terpancar berjuta harapan.

Baca Juga:  Darul Ahdi wa al-Syahadah, NEGARA PANCASILA Perspektif Islam Berkemajuan

“Maturnuwoon ya Nib…”
“Wah, terimakasih ‘banget’ lo Nib…moga-moga ‘cespleng’!”
“Makasih….makasih…”
Mereka menjabat tanganku erat-erat. Aku beranjak dari gardu ronda meninggalkan mereka. Sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib dari kejauhan. Mereka masih asik nongkrong di gardu ronda dengan ballpoint dan kertas Ciam Sie yang ada kalimat teka-teki buntutan. (Lanjut bagian 2)

*****

Flyer Seminar Undip 1987

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *