Manusia: Akal, Jiwa dan Akhir Hidup

Khazanah, Opini108 Dilihat

Alvin Qodri Lazuardy, M.Pd

Fordem.id – Konsep Manusia, Islam memiliki konsep yang begitu sempurna tentang manusia. Sederhananya, siklus manusia di dunia terbentuk dalam satu kalimat, innalillahi wa inna ilaihi rojiun, fakta bahwa kita adalah milik Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya. Secara umum, Islam menjelaskan bahwa manusia terdiri dari dua unsur, yaitu materi dan immateri atau materi dan ruh. Tuhan menghembuskan ruh ke dalam tubuh manusia setelah proses penciptaan yang sempurna.

Menurut Imam al-Ghazali, arti kata sempurna adalah ketika sel benih memenuhi syarat untuk menerima ruh atau nafs. Tubuh manusia berasal dari tanah dan terdiri dari materi. Namun, manusia juga memiliki roh atau jiwa yang termasuk dalam alam non materi yang tidak terlihat. Tubuh pada akhirnya akan kembali ke bumi dan jiwa akan kembali ke alam gaib. Menurut Yusuf al-Qardhawi, unsur material dan immaterial dalam diri manusia harus seimbang. Artinya, seseorang tidak dapat mengurangi hak-hak badan untuk memenuhi hak-hak jiwa. Demikian juga sebaliknya.

Al-Qur’an menyebut manusia dalam tiga kata. Pertama, meliputi Alif, Nun dan Sin, dengan contoh Insan, ins, nas atau unas. Kedua, gunakan kata basyar. Ketiga, menggunakan kata bani Adam dan dzurriyat Adam. Kata Insan diambil dari kata uns yang artinya jinak, rukun, kelihatan, nasiya (melupakan sesuatu atau meninggalkan sesuatu). Sedangkan kata Basyar mengungkapkan arti penampilan sesuatu yang baik dan indah atau berkulit pendek. Jadi, Basyar adalah kulit terluar manusia, artinya semua manusia itu sama.

Maka secara garis besar, manusia terdiri dari tiga unsur yaitu:

  • Pertama, tubuh terdiri dari air, kapur, angin, api, dan tanah.
  • Kedua, pikiran terdiri dari cahaya yang fungsinya hanya untuk menghidupkan tubuh.
  • Ketiga, jiwa (al-nafs) terdiri dari tiga unsur, Mutmainnah dipengaruhi oleh sifat malaikat yaitu menciptakan kedamaian dan kasih sayang.

Selain itu, unsur lawwamah membantu membentengi diri dari keinginan dan rasa penyesalan. Unsur terakhir yaitu amarah atau ghadab dipengaruhi oleh sifat setan yaitu membiarkan nafsu mengikutinya dan mendengarkan bisikan setan.

Tujuan Penciptaan Manusia

Manusia diciptakan untuk tujuan ibadah dengan mengikuti perintah Penciptanya, yaitu Allah, dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebagaimana firman Allah, Dia menciptakan jin dan manusia hanya untuk mengabdi padanya. Manusia dikaruniai akal yang membedakannya dari hewan. Allah tidak menciptakan manusia untuk main-main, manusia akan bertanggung jawab di kehidupan selanjutnya. Agar setiap aktivitas manusia bernilai ibadah, Allah telah menjadikannya pemimpin di bumi ini (khalifah fil-ardh) dengan melaksanakan tugas-tugas di dunia dengan baik.

Dengan demikian manusia adalah makhluk yang paling baik bentuk dan fungsinya, bahasa al-Qur’an adalah ahsan al-taqwim. Maka dari itu manusia mempunyai dua potensi. Pertama, potensi menjadi jiwa yang sempurna untuk dekat dengan Tuhan.

Kedua, kemampuannya menjadi roh jahat mengikuti binatang. Satu-satunya cara untuk mencapai kesempurnaan ini adalah dengan kembali kepada Tuhan melalui iman dan amal saleh.

Baca Juga:  Idul Adha: Berkah untuk alam

Insan Kamil

Tentang istilah Insan Kamil mencakup dua kata al-Insan dan al-Kamil yang terkait dengan manusia, yang dapat dipahami sebagai kesempurnaan dari kedua sisi, fisik dan mental. Namun, aspek spiritual inilah yang sering disebutkan. Hal ini karena kesempurnaan spiritual paling dominan dalam menentukan perjalanan hidup manusia.

Sedangkan yang dimaksud Imam al-Ghazali, bahwa kesempurnaan manusia adalah yang sesuai dengan substansi esensialnya yakni nafs. Tujuan hidup manusia adalah kesempurnaan jiwa Karena jiwa mempunyai kemampuan dasar mengetahui maka kesempurnaannya adalah ketinggian tingkat kemampuan untuk mengetahui, yang berarti akal telah memperoleh sebuah keutamaan yang disebut Al Hikmah.

Masih menurut Imam al-Ghazali, kesempurnaan manusia adalah sesuai dengan fitrahnya yang hakiki, yaitu nafs. Tujuan hidup manusia adalah menuju kesempurnaan jiwa, karena jiwa memiliki kemampuan dasar untuk mengetahui, suatu kebajikan yang disebut al-Hikmah.

Hikmah itu sendiri terbagi menjadi dua, al Hikmah al- Ilmu al-Nazhariyyah dan al- Hikmah al-Khuluqiyyah. Yang pertama mengacu pada pengetahuan secara zhahiriyah. Sedangkan yang kedua merujuk pada terciptanya perbuatan-perbuatan yang baik atau akhlaq mahmudah. Dengan kata lain, manusia yang sempurna adalah orang yang mampu mengenal dan dekat dengan Tuhan melalui ruh atau jiwanya, sekaligus memiliki akhlak yang terpuji dengan tubuhnya. Dengan tujuan utama yaitu mencapai kebahagiaan di kehidupan dunia dan akhirat.

Akal Manusia

Kalau bersedia jujur kita sudah mengakui suatu pengakuan agung atau disebut mitsaq, yaitu pengakuan seluruh umat manusia bahwa Allah adalah Tuhan. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-Araf:172 :, “Apakah aku – Allah – benar-benar Tuhanmu?  (Alastu bi robbikum),” lalu kita menjawab: “Ya, kami setuju dan bersaksi (qolu bala syahidnaa).” Bahwa ini terjadi sebelum manusia muncul di dunia ini (alam ruh), di mana manusia dalam bentuk ruh yang berbicara – dengan akal – (an-nafs an-nathiqah).

Pengakuan ini merupakan pernyataan mutlak bahwa fitrah manusia adalah mengakui Tuhan sebagai Rabb, melalui pengakuan inilah manusia lahir bersih (fitrah). Manusia telah diciptakan Allah dengan sebaik-baiknya termasuk didalamnya kemampuan berbicara dengan nalar (nuthq) yang Allah ilhamkan sebagai pembeda entitas makhluk lainnya (hewan-tumbuhan). Dengan istilah, “manusia adalah hewan yang bernalar (al-insan hayawan nathiq).”

Hal ini bukan berarti manusia adalah hewan yang dipersepsikan dalam teori Darwin (teori evolusi), namun perlu diinsyafi bersama bahwa dalam manusia terdapat irisan sifat hewani. Tapi disisi lain manusia dilebihkan kemampuan berbicara dengan nalar (dzu nuthq). Dengan akal inilah, sifat hewani manusia bisa ditekan.

Akal (‘aql) secara etimolog mempunyai arti pengikatan. Maksud dari pengikatan disini adalah akal (‘aql) berfungsi untuk mengikat obyek ilmu (‘ilm) yang didapatkan. Akal (‘aql) adalah suatu substansi ruhiah yang memungkinkan untuk mengenali kebenaran dan mampu membedakan antara benar (haq) dan salah (bathil). Sedangkan proses dari aktivitas akal (‘aql) dapat dikatakan sebagai berpikir (fikr).

Asal mula asasi dari akal (’aql) yang diberikan Allah kepada manusia mempunyai daya utama, yaitu usaha untuk menemui kebaikan –daya untuk memilih- (ikhtiyar) suatu upaya untuk memilih kebaikan (khayr). Karena akal (‘aql) sejatinya akan menuntun manusia ke jalan yang benar serta pembeda baik (haq) dan buruk (bathil). Fungsi akal yang utama adalah meningkatkan daya furqon (pembeda) dengan pedoman al-Qur’an sebagai wahyu (khabar shadiq). Karena al-Qur’an huda li an-naas wa bayyinati min al-huda wa al-furqon (al-Baqarah: 185).

Baca Juga:  Warga Muhammadiyah Wajib Berpolitik, tapi....

Dari wahyu, akal (‘aql) akan mempunyai daya pembeda (furqon) antara benar (haq) dan salah (bathil). Kemudian diproses dalam aktivitas berpikir (fikr), pada tahap selanjutnya, dituangkan meliputi basic belief, pikiran (fikroh), perkataan (qaul), perbuatan (amal) dan mengkristal menjadi pola kehidupan (minhajul hayah).

Pandangan dan Jalan Hidup Manusia

Pandangan dan jalan hidup memiliki porsi sangat serius dalam perjalanan kehidupan seorang muslim. Pandangan adalah proyeksi atas kehidupan bagi seorang muslim mampu mengejawantahkan apa yang ia lihat secara zhahir dan bathin. Karena pada hakikatnya kehidupan ini mencakup dua dimensi yaitu ‘alam asy-syahadah dan ‘alam al-ghaybah. Jalan hidup adalah arah kehidupan darimana berasal dan kemana berakhir.

Seorang muslim cerdas dialah yang mampu menyadari di setiap langkahnya memahami darimana dirinya berasal mula kemudian sadar kemana dirinya akan berakhir. Sebagaimana terikat sebuah hadits “Al kayyisu man daana nafsahu wal amila limaa ba’dal maut”.

Membaca Al Fatihah bagi seorang muslim, minimal 17 kali dalam sehari –jika hanya dihitung rakaat sholat fardhu-, namun dalam hitungan maksimal bagi seorang muslim tidak ada batasan untuk mengamalkan fatehah –sebagaimana logat orang Jawa berbunyi.

Muslim taat pasti sepakat bahwa seluruh isi al-Qur’an itu “laa roiba fiihi” tidak ada sedikitpun keraguan di dalamnya. Surat 7 ayat ini mempunyai segudang rahasia dalam kandungannya terdapat pokok-pokok tuntunan hidup dan arah hidup. Menerangkan sebuah konsep ideal hidup seorang Muslim.

Boleh dikatakan, muatan pandangan hidup seorang Muslim bersifat “rasional dan supra-rasional”, sengaja penulis tidak sandingkan dengan “rasional-irasional”, karena pandangan hidup dalam Islam tidak ada yang “irasional” atau tidak masuk akal, namun lebih tepatnya ia bersifat “supra-rasional” itu semata-mata bukan tidak masuk akal, namun karena bersifat “supra” sehingga dimensi akal manusia tak sampai untuk menjangkaunya secara empirik.

Di ayat pertama, mengandung sifat “rahman” dan “rahim” dari Allah ‘Azza wa Jalla yang memberikan petunjuk kepada manusia bahwa setiap langkah hidup harus dimulai dengan “bismillah” (dengan nama Allah) agar kasih dan sayang-Nya selalu menaungi hidup seorang Muslim.

Ayat kedua, “Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin”, mengandung sebuah konsep dasar kehidupan dan keteraturan hidup di alam semesta. Ayat ini sebagai “itsbat” bahwa alam (‘alamin) ini ada penciptanya yaitu “rabb” merujuk kepada Allah kemudian diciptakan dengan grand design terbaik serta tertata dengan seimbang, secara bersamaan juga sebagai “nafyu”, yaitu menafikan teori evolusi yang berbunyi alam ini tercipta oleh sendirinya (kebetulan) dan secara acak. Karena keagungan inilah, ucapan ini sebagai wujud pujian serta rasa syukur segenap Mahkluk ciptaan Allah al-Khaliq.

Baca Juga:  Alamiah atau By-Desain

Lebih mendalam, mengenai kalimat “hamdalah” yang bermakna “segala puji hanya kepada Allah, Tuhan Pemelihara alam semesta”, ini bermakna selain pemelihara, Allah pengatur sekaligus pengakhir Alam ini.

Mengaitkan akhir Alam ini, semesta pasti berakhir – karena tiada yang abadi- kecuali Allah, “kullu syai halikun illa wajhahu Allah”.

Demikian pula Allah mengatakan di ayat ke- empat “Maliki yaumiddin” menunjukkan bahwa Allah Raja di hari pembalasan. Ditegaskan dalam QS. al-Infithar: 19, bahwa di hari itu setiap manusia menanggung urusannya masing-masing dan hanya Allah-lah Raja di hari itu.

Uraian di atas, menunjukkan bahwa idealnya bagi seorang Muslim dalam memandang dunia menyadari bahwa semua yang ada diciptakan oleh Allah dengan sifat rahman-rahim. Alam tercipta dengan sengaja dan teratur tidak acak dan semua akan menemui akhir dunia dengan kehendak-Nya.

Mengarah kepada konsep jalan hidup, tercantum dalam ayat “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”. Isyarat secara tersurat ini menunjukkan arah jalan hidup manusia yaitu hanya untuk beribadah dan hanya meminta pertolongan kepada Allah semata. Untuk apa ibadah dan untuk apa meminta pertolongan?. Ibadah bertujuan untuk mengabdi kepada Allah dengan benar dan khidmat. Meminta pertolongan agar Allah selalu menuntun hidup dalam jalan lurus “shiratal mustaqim” yaitu jalan yang lurus bukan jalan yang dimurkai dan sesat. Lebih dalam, jalan lurus itulah jalan rahmat para Nabi, shiddiqin, syuhada’ seperti yang ditegaskan dalam Q. S. an-Nisaa: 69.

Hujungan Hidup

Selanjutnya, ada sebuah pertanyaan, “kepada siapa kita akan kembali?”. Apabila manusia sudah merasakan ketenangan jiwa karena tertanam “nafsul muthmainnah”, yang di dapatkan dengan Ibadah. Ingatlah Allah telah menyiapkan panggilan spesial: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang tenang lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam syurga-Ku“. (Q.S. Al-Fajr: 27-30). Semua manusia akan kembali pada Allah tetapi kita akan kembali dalam keadaan bagaimana, sedangkan Allah telah memerintahkan kepada jiwa yang tenang untuk memasuki surganya.

Penjelasan ini merujuk kembali pada kalimat “Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun” yang memiliki keterikatan sangat erat. Singkatnya manusia itu milik Allah, dari Allah dan manusia akan kembali seluruhnya kepada Allah. Manusia tercipta karena Allah, manusia hidup di dunia beribadah kepada Allah dan manusia kembali setelah menjalani kehidupan kepada Allah. Dari Allah, milik Allah dan kembali kepada Allah. Inilah konsep dasar manusia yang perlu kita insyafi kembali agar hidup kita sesuai dengan orientasi dari islam yang telah Allah gariskan, agar manusia terbebas dari kerancuan dunia dan menjalani hidup dengan hati yang selamat dan kembali kepada Allah dengan keadaan jiwa yang tenang.

(Alumni Pascasarjana UM Purwokerto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *